‘Yasmine’: Brunei’s first movie goes international

yasmine_brunei_movieDirected by Brunei’s first female director, Yasmine: The Final Fist, is ready for its international debut. Canadian indie distributor 108 Media has picked up the worldwide sales rights to Brunei’s first ever box-office movie.

Yasmine, a coming-of-age martial arts film by the Muslim-majority sultanate’s first female director, Siti Kamaluddin, is to have its North American premiere on Friday at the Fantasia International Film Festival in Montreal.
Ahead of that Canadian screening, 108 Media acquired the sales rights to the Liyana Yus-starrer about Yasmine, a young woman who lives alone with her strict father and wants to be a champion at Silat, Brunei’s version of kung fu.

To build a “dream team” for this project, Siti  invited talents from Indonesia, Malaysia and Hong Kong to come to Brunei for 45 days of shooting.

Besides Liyana Yus from Brunei playing the lead role, there are some talents from Indonesia: Reza Rahadian (Fahri – Yasmine’s Father), Agus Kuncoro (Jamal – Silat teacher), Dwi Sasono (Tong Lung – School Silat teacher), The Raid 2 actor Arifin Putra (Fahri’s friend), Roy Sungkono and Mentari De Marelle. Dian P Ramlee, Dato’ M. Nasir, Nabila Huda, Soo Wincci, Carmen Soo and Aryl Falak from Malaysia.

Prominent Hong Kong martial arts choreographer Chan Man Ching (‘The Legend of Drunken Master 2′, ‘Rumble in the Bronx’,  ‘Rush Hour’, ‘Hell Boy 2′) and Indonesian screenwriter Salman Aristo (‘Laskar Pelangi’, ‘Ayat-Ayat Cinta’) also support Siti’s dream team.

This movie is set to release worldwide — including Brunei, Malaysia and Indonesia– on August.

Brunei Darussalam is one of the smallest countries in the world; while its population is among the richest in the world – thanks to vast oil and gas reserves.  But Brunei’s film industry is yet to be developed and touched. “The last film ever made here was a 1960s how-to guide by the ministry of religious affairs about being a good citizen.”

yasmine_Brunei_movie_poster

Nihonjin

Tulisan yang terlambat beberapa tahun. Tapi rasanya masih punya hutang kalau belum ditulis di sini. Plus nantinya beberapa versi buat negara lain. Jadi, ini kesan atas orang-orang di Jepang, dalam amatan bulan Juni 2011.

Imigrasi Haneda
Petugas imigrasi (cowok, usia sedang) benar-benar memeriksa di hotel mana aku akan menginap malam itu. Waktu itu, hampir tengah malam. Dan aku memutuskan menunggu Shinkanzen pagi di airport. Petugas menunjukkan ketidaksukaannya bahwa aku tidak mereservasi hotel buat tidur malam itu. Mungkin dia merasa aneh ada orang mau membuang 6 jam sia-sia di airport.

Douane Haneda
Petugas (cewek, usia sedang) menanyakan tujuan kunjungan. Aku sampaikan, aku akan menghadiri summit. Dia lihat jaket travelingku dan koper kecilku. Sopan, dia minta izin memeriksa koper. Aku bantu buka, dan dia periksa secara rapi. Ada satu lapisan di atas koper. Dia minta izin buka. Begitu dia lihat isinya jas, dia bilang: oh. Sambil senyum. Pemeriksaan selesai. Kayaknya mukaku gak tampang summit.

Penjualan Tiket Bis, Haneda
Aku menanyakan tiket kereta. Si petugas (cewek, masih muda) bilang, dia hanya jual tiket bis. Tapi dia carikan buku jadwal kereta, dan menunjukkan jadwal kereta; plus di mana aku harus cari tiket kereta besok pagi. Dengan senyum dan keramahan 100%.

Penukaran Mata Uang Asing, Haneda
Dua petugas di sini (cowok, masih muda) lebih mirip main sinetron Korea; baik wajah maupun gaya becandanya. Kita diminta mengisi form. Dan mereka dengan keceriaan 100%, memberikan Yen yang kita minta. Padahal ini jam 1:00 malam. Gak ada tanda kantuk atau cela apa pun pada ekspresi mereka.

Penjualan Tiket Kereta, Tokyo
Papan bertuliskan bahwa loket akan dibuka pukul 6:00. Sampai 5:55, tidak ada tanda kehidupan apa pun di depan. Rolling door masih tertutup seperti mati. Satu petugas menyapu depan pintu. Aku coba tanya ke tukang sapu, dia diam saja. Jam 5:59, tidak ada perubahan. Jam 5:59:50, rolling door dibuka. Di dalam, lampu sudah menyala, semua petugas sudah duduk rapi di tempatnya, dengan keceriaan dan keramahan penuh.

Shinkanzen

Tunawisma, Tokyo
Seorang ibu tua yang lusuh tidur di trotoar, tak jauh dari tempat penjualan tiket kereta.

Petugas Tourist Centre, Kyoto
Petugas ini (cowok, agak tua) menanyakan berapa lama aku akan di Kyoto. Lalu memberikan saran tempat yang menarik untuk dikunjungi. Juga, ia memberikan beberapa voucher untuk diskon di tempat-tempat yang dia sarankan. BTW, di tempat2 itu, voucher diskon itu benar2 diminta dan digunakan.

Hotel Guest Service, Kyoto
Petugas yang ini (cewek, masih muda sekali) dengan tampilan prima, mengantar ke kamar. Dengan bahasa Inggris yang luar biasa (untuk ukuran Jepang), ia menunjukkan fasilitas yang ada di kamar; tapi dengan keramahan seperti seorang teman. Waktu kuserahkan tip, jawabannya tegas sekali: “We don’t have tipping system here.” Jawaban itu cukup untuk membuatku tidak memberikan tip buat siapa pun selama di Jepang.

Nara

Cleaning Service, Kyoto Station
Di sini aku baru tahu kenapa seluruh tempat di Jepang bersih. Memang, warga punya budaya untuk membuang sampah hanya di tempat sampah. Dipilah pula sampah organik dan sampah non organik. Budaya ini konon lumayan baru. Di tahun 1970-an, orang Jepang masih sejorok orang Indonesia. Bahkan waktu itu, orang masih sering tampak meludah di jalan. Tapi budaya bisa diubah.
Oh ya. Jadi faktor lain adalah bahwa petugas cleaning service bekerja keras. Mereka terus menerus membersihkan lantai dan ruangan, biarpun di mata kita sebenarnya masih bersih. Mereka bekerja keras. Jadi, mengelap pegangan tangga pun dilakukan dengan ekstra tenaga. Mungkin sekalian olah raga. Jadi, kebersihan di Jepang bukan diakibatkan GDP-nya yang tinggi atau posisinya di lintang utara. Tapi karena ada petugas yang bekerja keras setiap saat untuk melakukan pembersihan.

KyotoCleaner

Pengunjung Café, Kyoto
Hanya di Jepang sini, aku bisa memilih kursi kafe di luar ruangan (outdoor). Ketik-ketik dengan notebook. Trus masuk ke dalam buat pesan kopi lagi, meninggalkan notebook di luar, dengan perasaan aman dan nyaman. Jangan dicoba di negara Eropa yang mana pun. Jangan dicoba di Singapore. Kalau mau coba, hanya coba di Jepang saja.

Warga Kota Yang Baik, Nishikasai
Aku berkeliling, bawa nama hotel dan alamatnya, dalam huruf latin dan kanji. Biarpun sudah ambil paket roaming unlimited dari Telkomsel, Softbank tanpa ampun tak memberiku akses Internet. Tersesat di area kecil. Hotelku seharusnya dekat stasiun. Tapi, siapa pun yang aku tanya, gak bisa bantu menunjukkan alamat dalam huruf latin dan huruf kanji itu. Berputar-putar agak jauh. Akhirnya aku tertolong seorang warga pendatang. Mukanya agak-agak India atau Melayu. Hotelnya memang dekat sekali dengan stasiun.

Antri

Warga Kota Yang Baik, Tokyo
Tiketku ternyata gak bisa digunakan ke Haneda. Aku tanya petugas, dan diarahkan ke loket. Di loket, aku beli tiket lagi. Trus naik kereta. Di kereta, somehow, aku gak menemukan passportku (!). Aku turun. Naik kereta lagi, balik ke stasiun semula, ke loket. Mau tanya, barangkali ada yang lihat passport-ku. Di depan loket, masih tampak passportku, di lantai. Pasti tadi jatuh, dan kebetulan lantai belum dipel. Tak tampak terinjak, padahal stasiun agak penuh. Aku ambil, balik ke kereta lagi.

Fitnah VOA-Islam.com

:: Sudah lama sekali saya tidak mau menjadikan situs voa-islam.com, dan juga arrahmah.com sebagai sumber rujukan. Karena mereka ini terlalu mudah menyebarkan berita yang tidak jelas & fitnah. Isi tulisannya apalagi, sangat menghasut. Sangat jauh dari nilai-nilai Islam. 

Satu contoh; di artikel berikut ini : 
http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/07/23/31770/benarkah-ketua-kpu-husni-kamil-manik-adik-ipar-jusuf-kalla/#sthash.JbqFwFLz.dpbs

Voa-islam memfitnah bahwa ada hubungan keluarga antara Ketua KPU dengan Jusuf Kalla, yaitu istri mereka saling bersaudara. 

Padahal, istri Ketua KPU berasal dari Wonogiri, sedangkan istri Jusuf Kalla dari Sumatera Barat (tanah datar). 

Voa-islam juga memfitnah bahwa Ketua KPU melakukan pertemuan dengan timses Jokowi.

Padahal itu adalah pertemuan reuni dengan kawan sekolahnya.

Saat ini, terlalu banyak PENIPU yang mengaku & menjual nama  ISLAM. 

Jangan mudah percaya begitu saja. Selalu kritis. 
Hindari media massa pemfitnah & penipu seperti voa-islam & arrahmah.

Post imported by Google+Blog for WordPress.

Indonesian voters are crowd-sourcing ballot counts

contoh-surat-suara-pilpres-2014_viva-_663_382With both presidential candidates declaring victory –based on different quick count results– last week, Indonesians started to help monitoring the real vote count, thanks to crowd-sourcing approach and platform.

TechInAsia wrote:

This is a great example of how much technology can play a part in the nation’s future. And how many people are willing to safeguard that by voluntarily counting ballots all the way till the end.

Blogger Priyadi listed five sites that collect scanned C1 forms as follows:

Last Update % Prabowo % Jokowi Margin of Error
realcount.herokuapap.com 2014-07-13 46.10% 53.90% 0.12%
kawal-suara.appspot.com 2014-07-13 47.64% 52.36% 0.05%
pilpres.kemzoft.com 2014-07-13 46.26% 53.74% 0.04%
solusirfid.com 2014-07-13 46.36% 53.64% 0.03%
docs.google.com 2014-07-13 46.90% 53.10% 0.08%

The official results will be announced by General Elections Commission (KPU) on July 22.

[Image credit]

Dessine-moi un Mouton

Gambarkan aku seekor domba! – pinta si pangeran kecil. Itulah awal jumpa Antoine de Saint-Exupéry sebagai pilot sebuah pesawat yang terdampar dengan si pangeran kecil di tengah Gurun Sahara, yang didokumentasikannya dalam buku Le Petit Prince.

Tak banyak dari kita yang mencoba menyelami, mengapakah gerangan permintaan pertama si pangeran kecil itu justru menggambar domba. Dessine moi un mouton!

PangeranKecil-01

Orang-orang yang mudah puas merasa telah menemukan penjelasan, karena pada bab awal, penulis menjelaskan bahwa saat ia kecil ia mencoba menggambar ular boa, tapi tak dipahami orang dewasa. Bahwa kemudian si pangeran kecil bisa memahami gambar sang pilot tanpa memerlukan banyak penjelasan, menjadi penjelasan bagi banyak pembaca bahwa si pangeran kecil memiliki pemahaman melintasi kekuatan persepsi orang dewasa yang pikirannya sudah banyak tertutupi angka-angka dan hal-hal remeh lainnya.

Padahal, jangan lupa, si pangeran kecil mengingatkan rahasia sang rubah kepada pembaca: Lihatlah dengan hati. Hal-hal yang penting justru tak tampak oleh mata.
Padahal, jangan lupa, sang pilot mengingatkan pembaca dari generasi sesudahnya sejak dari halaman pembuka: Mohon maaf, buku ini ditulis untuk orang yang sudah dewasa – sahabatku yang sedang kelaparan dan kedinginan di Perancis yang sedang dilanda perang.
Padahal, jangan lupa, si pangeran kecil menjelaskan, untuk apa ia memerlukan domba itu.

Baobab! Ia memerlukan si domba untuk makan tunas-tunas kecil. Tunas-tunas kecil, yang tampak lemah, bisa berkembang menjadi tanaman yang baik, atau tanaman yang merusak. Orang sering kali abai melihat tunas-tunas, yang sebenarnya mereka tahu bisa berbahaya. Mereka abai, sampai suatu hari sekumpulan baobab sudah menjadi terlalu besar, dan merusak planet-planet kecil, tanpa dapat diperbaiki lagi. Si pangeran kecil bahkan meminta sang pilot untuk secara khusus mengingatkan anak-anak tentang pentingnya ketelitian menyiangi tunas, dan mencegah tumbuhnya baobab. Ia bahkan merasa perlu membawa domba ke planetnya untuk mencegah baobab tumbuh.

PangeranKecil-02

Sebagai pilot, Antoine de Saint-Exupéry turut menjadi patriot yang bertempur dengan pesawat kecilnya, mempertahankan tanah air Perancis melawan fasisme Eropa masa itu. Adolf Hitler, Benito Mussolini, Francisco Franco, dan para diktator fasis lain tidak pernah betul-betul menyembunyikan tujuan dan strategi mereka. Hitler bahkan menuliskan cita-citanya yang kelam bagi kemanusiaan dalam buku Mein Kampf, sepuluh tahun sebelum Perang Dunia II. Pun terang-terangan ia mengangkat kemurnian ras. Pun terang-terangan ia mengancam lawan-lawan politiknya dari seluruh Eropa. Pun terang-terangan ia mengambil alih Austria dan Ceska. Tapi politisi Eropa dan dunia mengabaikannya. Lalu ia menduduki Polandia dengan mudah, dan tak ada lagi yang mampu menahannya, hingga Perancis jatuh.

Gambarkan aku seekor domba! – pinta si pangeran kecil. Gambarkan aku sesuatu yang mampu menahan tunas-tunas kekejian, kerusakan, kejahatan untuk tumbuh dan berkuasa. Dessine moi! Design me a system to avoid, to withstand, to overcome.

Tapi, tolong jaga, agar domba itu tak menganggu si bunga mawar merah. Domba itu tidak boleh mengganggu keindahan kreasi semesta. Domba itu sama sekali tidak boleh menjadi ancaman bagi kehidupan.

Akan sang bunga sendiri. Sadarkah ia bahwa si pangeran kecil mencoba menjaganya? Ia membalasnya dengan keangkuhan yang polos, dengan kebanggaan murni yang merepotkan.

Seperti akhirnya Exupéry harus meninggalkan negerinya yang jatuh ke tangan Nazi Jerman, si pangeran kecil juga memanfaatkan migrasi para burung untuk meninggalkan planetnya. Mencari jalan untuk melindungi semesta kecilnya. Namun yang ditemuinya hanya pemimpin negara dengan ilusi kekuasaan yang terkekang (lucunya, tetap sambil sepakat dengan Foucault bahwa kekuasaan itu tersebar dalam bentuk pengetahuan), para selebriti yang sibuk bermegah mengagumi diri sendiri, korporasi dunia yang memaksa mengejar angka yang jauh dari kenyataan real, para abdi negara yang sekedar menjalankan tugas hingga kelelahan tanpa menyadari apa tujuan tugasnya, serta orang-orang yang bahkan tak paham apa pun yang tengah terjadi di luar siklus hidupnya yang memusingkan.

Metafora dalam Le Petit Prince bukan berisi satu dua gagasan, ajakan, dan cerita saja. Di dalamnya tercakup juga biografi Exupéry sendiri, kecanggungannya sebagai seorang pelarian di dunia yang tak memahami ada hal genting di dunia lain, kenangannya pada adiknya yang meninggal, dan keinginannya untuk kembali ke medan perang melawan kaum fasis. Selesai menulis buku ini, Exupéry memberikan manuskrip kepada penerbit, lengkap dengan gambar-gambar indah yang dibuatnya dengan cat air sebagai ilustrasi cerita. Lalu ia kembali ke Eropa.

PangeranKecil-03

Tapi mengapa harus kembali? Menumbuhkan kebaikan bagi semesta bisa di mana saja. Si pangeran kecil terus teringat negerinya, bunganya. Bunga itu — être-en-soi —jauh lebih penting daripada ratusan lainnya, karena keterikatan yang dibentuk oleh komitmen darinya. Maka Exupéry kembali. Di sana ia minta diterima kembali sebagai pilot tempur melawan kaum fasis. Di akhir Juli, ia terbang dalam misi pengintaian untuk perebutan kawasan Perancis selatan.

Ia tak pernah kembali.

Ia hanya meninggalkan buku janggal, bukan tentang filsafat atau tentang esai atau tentang cerita yang menggugah, tetapi tentang seorang pangeran kecil yang janggal, masuk ke dunia yang janggal, berkomunikasi dengan cara yang janggal, dan mengirimkan pesan yang tak mudah dimengerti dunia. Bagaimana mungkin dunia mengerti? Di kepala mereka hanya ada delusi kekuasaan, kekaguman pada diri sendiri, target dan pencapaian bisnis, hidup yang berputar memabukkan, dan tugas-tugas yang harus diselesaikan. Les yeux sont aveugles. Il faut chercher avec le cœur. Bagi mereka, ia tak pernah kembali.

Tapi bagiku ia telah kembali.

On information seeking report

The Project Information Literacy released their research report titled “Lessons Learned: How College Students Seek Information in the Digital Age” in 2009.  The PDF report can be found at http://projectinfolit.org/pdfs/PIL_Fall2009_Year1Report_12_2009.pdf.

What makes this report interesting is that the group also try to dig deeper on how students developed their strategy in their information needs both for their course-related works and everyday life. In general, the students use course readings, library resources, and things like Google and Wikipedia when conducting course-related research. They tend to use Google, Wikipedia, and friends when it came to everyday life research.

One of the findings is that students tend use the course readings first for their course-related research.  This seems a no brainer to me. After all, the faculty is their “first contact” in the courses they take.

The report also suggests the differences between the guides that librarians provided and the strategy employed by the students. “All in all, the librarian approach is one based by thoroughness, while the student approach is based on efficiency.” (page 20.)  This seems to line up nicely with what Roy Tennant wrote many years ago that  “only librarians like to search; everyone else like to find.” (Digital Libraries – Avoiding Unintended Consequences,  http://www.libraryjournal.com/article/CA156524.html)

As a side note, I’m curious about the time and effort on researches being done in learning students information seeking behavior. Public Services librarians seem to understand this already based on their interaction with the students. Interestingly enough, most of library collection decisions are based on faculty research needs. So, I wonder how the familiarity of the resources affects the faculty’s decision in constructing their course readings and whether it might also affect the student behavior in their information seeking.

All in all, this is their ultimate conclusion:

This is our ultimate conclusion: Todayʼs students are not naïve about sources, systems, and services. They have developed sophisticated information problem-solving strategies that help them to meet their school and everyday needs, as they arise.

The report came up with several recommendations and one of them gave me a pause:

We have come to believe that many students see instructors—not librarians—as coaches on how to consult research. This situation seems to occur whether the faculty may qualify as expert researchers in the area of student research methods, or not. Librarians and faculty should see the librarian-student disconnect as a timely opportunity, especially when it comes to transferring information competencies to students.
We recommend librarians take an active role and initiate the dialogue with faculty to close a divide that may be growing between them and faculty and between them and students—each campus is likely to be different. There are, of course, many ways to initiate this conversation that some libraries may already have in use, such as librarian-faculty roundtables, faculty visits, faculty liaison programs, and customized pathfinders to curriculum, to name but a few. And there is always room for creating new ways to facilitate conversation between faculty and librarians, too. No matter what the means of communication may be, however, librarians need to actively identify opportunities for training faculty as conduits for reaching students with sound and current information-seeking strategies, as it applies to their organizational settings.
Personally, I have no objection with the recommendation above. After all, that’s why we (the librarians) are here for. However, the recommendation above basically takes for granted that narrowing or closing the librarian-student disconnect would actually improve the outcome of the students research. Or, in other words, nowhere in the report indicated that this disconnect bring “harms” to the students outcome. It would be nice to see some kind of assessments on this.

The hidden meaning of “a great degree of flexibility and customization”

Code4Lib mailing list has an interesting discussion about a discovery layer for Primo. This particular discussion piqued my interest not because of the technical content, but for what’s not actually being discussed. Here’s the sentence that intrigued me (italic part is mine):

We use Alma/Primo here at California State University  Sacramento and are finding a great degree of flexibility and customization of the local collections.

Flexibility and customization! I do like this. However, something else nagged me as well. Admit it, most of us are tinkerer. We like the idea that we can customize anything to make sure the relevant information will be displayed properly, with additional bells and whistles if needed. We cherish the idea of “freedom” in this area, where we can basically create a “perfect” user interface without being constrained by the vendor’s product. After all, each library is different and cookie-cutter templates could never satisfy us.

Here lies the hidden meaning of the freedom that we are so wanted: we better know what we’re doing. There will be a time we have to devote a lot of our time for the panning and designing, and making careful considerations we have to work on to make the product work effectively.  Anybody whose work deals with information architecture and/or user experience knows this. Design decision should be based on usability study, data analysis, and users research –understanding how our users would interact with our web presence. Most of us already have data from our web logs; our face-to-face or virtual interactions with users who are attempting to use our web presence gave us indications the pain points of our website; and, if we’re lucky, we already did one or two usability studies of our web presence.

However, when it comes to working on a totally new service with new web presence, do those data and the analysis we did apply to this new design? How do we exactly go about designing a totally new user interface? There is no easy answer to that. It is always a good thing to involve our user from the beginning, getting their input and and trust their opinion. Or create stories of personas (stake holders) and use them at least as a starting point. And this is probably where the paradox are happening. We know our services and collections, and we know our systems. So we design how we present our collections and services based on our previous understandings about our past users, who might or might not still relevant.

[lost my thought here. it might come back later. someday.]

 

Setup OpenMPI Cluster for bzip2

:: One job in a client involves managing terabytes of logfiles. Each logfile can be about 9 GB in size. And a new one is created every few minutes. Needless to say, however big your storage is, it will always be hard to keep up with such rate of usage.

I alleviate this by compressing the logfile using bzip2, before sending it to the storage server.
One problem though; compressing 9 GB logfile can take 2,5 hours ! Gzip can compress faster, but the resulting file is also about 2x bigger than bzip2. 

So I looked around for a solution, and found mpibzip2 : http://compression.ca/mpibzip2/ 

Now a 9 GB logfile can be compressed in just 15 minutes. That's at least 10x faster ! Not bad :-)

mpibzip2 achieves this by making the compression process spread into a cluster / many machines. Yes, we now can use a cluster to speedup compression process (insert Beowulf cluster joke here) :-) 

An OpenMPI (Open Message Passing Interface) cluster enable us to run a software simultaneously in multiple machines : http://en.wikipedia.org/wiki/Message_Passing_Interface 

Setting up an OpenMPI cluster may seem to be a daunting task at first. 
Turned out it's quite easy on a Debian platform (squeeze or newer). Here is how :

=====================
###### MASTER ######
cd /tmp
apt-get install openmpi-bin build-essential libbz2-dev libopenmpi-dev  
wget http://compression.ca/mpibzip2/mpibzip2-0.6.tar.gz
tar xzvf mpibzip2-0.6.tar.gz
cd mpibzip2-0.6

# Need to edit Makefile
vi Makefile
## make sure the line with CC=c++ is changed into
# CC=mpic++
# Otherwise, we'll get the following error message : 
# pibzip2.cpp:72:17: fatal error: mpi.h: No such file or directory

make
make install

# let's test locally / just in this machine
# -n2 = use 2 processors
mpirun -n 2 mpibzip2 /var/log/syslog

### OK, let's start set up the cluster
# the master need to be able to access the slaves with no password
# create SSH keys
ssh-keygen -t rsa -b 4096
# when asked for password, just press enter, twice

cat ~/.ssh/id_rsa.pub
# then paste this public key into slaves' ~/.ssh/authorized_keys file

# put slave's IP address / hostnames here :
vi /etc/openmpi/openmpi-default-hostfile
# just need to put the slaves' IP addresses there, simple.

###### SLAVE ######
cd /tmp
apt-get install openmpi-bin build-essential libbz2-dev libopenmpi-dev sshfs 
wget http://compression.ca/mpibzip2/mpibzip2-0.6.tar.gz
tar xzvf mpibzip2-0.6.tar.gz
cd mpibzip2-0.6

# Need to edit Makefile
vi Makefile
## make sure the line with CC=c++ is changed into
# CC=mpic++
# Otherwise, we'll get the following error message : 
# pibzip2.cpp:72:17: fatal error: mpi.h: No such file or directory

make
make install

###### TEST mpibzip2 ######

# make sure there is a shared folder on all master & slaves
# in this example, I'll use sshfs to share the folder
cp /var/log/syslog /tmp/
ssh root@slave1 sshfs root@master:/tmp//tmp 
ssh root@slave2 sshfs root@master:/tmp//tmp 

# let's run mpibzip2
mpirun -v -n 40 –hostfile /etc/openmpi/openmpi-default-hostfile /usr/bin/mpibzip2 -v /tmp/syslog
# this will run 20 processes of mpibzip2 on each slave1 & slave2

=====================

Hope you'll find this note useful. 

At the moment, my 40-processors OpenMPI cluster is busy scrouging the storage server for any uncompressed logfiles, and quickly compress it. Love this :)

Open MPI – Wikipedia, the free encyclopedia
Open MPI. Open MPI logo.png · Stable release, 1.8 / March 31, 2014; 3 months ago (2014-03-31). Operating system · Unix, Linux, Mac OS · Platform · Cross-platform · Type · Library · License · New BSD License (free software). Website, www.open-mpi.org. Open MPI is a Message Passing Interface (MPI) …

Post imported by Google+Blog for WordPress.

HARI GINI MASIH PERCAYA TrioMacan2000 ?

:: Pagi ini dengan takjub saya membaca posting seorang kawan, menyatakan : "When Trio Macan is BACK,  
It's Clear Which is White or BLACK" 

Sejak awal munculnya akun TrioMacan2000 ini, saya sudah tidak mau menggunakannya sebagai sumber rujukan. Karena si TrioMacan2000 ini doyan mencampur adukkan yang benar dengan yang bohong. Sehingga, kita jadi terkecoh. Dan sangat sulit untuk membedakan, yang mana yang benar & mana yang bohong.

Bagi penganut agama Islam, soal ini sudah jelas & tegas larangannya : "Dan janganlah kamu campur-adukkan yang haq dengan yang bathil" (QS 2:42)

Saya berikan satu contoh : pada saat ini, si @TM2000Back getol mendukung Prabowo, dan gencar menyerang Jokowi. Dan menurut saya, hasilnya cukup signifikan. Misalnya, fitnah @TM2000Back yang menuduh Jokowi adalah PKI sampai masuk ke media massa mainstream. Dan banyak anggota keluarga saya yang terkecoh.

Nah, tahukah Anda bahwa pada awalnya si TrioMacan2000 ini sangat keras menyerang Prabowo ? Dan Prabowo juga tidak segan menyerang balik, sampai akun @TrioMacan2000 ketika itu dibekukan oleh Twitter : 

http://www.rmol.co/read/2012/12/31/92145/Gerindra:-@TrioMacan2000-Masuk-ke-Ruang-Pribadi-Prabowo-

http://www.rmol.co/read/2012/12/30/92056/@TrioMacan2000-Dibekukan-Twitter-karena-Melanggar-Privasi-Prabowo-

Serangan TrioMacan2000 ke Prabowo yang lebih keras lagi bisa dibaca misalnya disini : https://web.archive.org/web/20130304222202/http://chirpstory.com/li/40534/

Disitu diungkap bagaimana kasarnya pribadi Prabowo, berbagai korbannya, dst. Bukan main TrioMacan2000 ini, dan bahasa yang digunakannya pun sangat  blak-blakan.

Kini ? Dia menjadi salah satu pendukung Prabowo yang paling getol. 

Hari gini masih percaya TrioMacan2000 ? Kasihan juga ya…

Catatan : link di atas cuma bisa dibuka dengan mematikan terlebih dahulu Javascript di browser Anda.

Alternatifnya, bisa juga dibaca arsipnya disini :

http://ayojokowiaja.blogspot.com/2014/04/tweets-triomacan2000-masa-lalu-prabowo.html

http://pastebin.com/KrqCSw0b

“PRABOWO DAN SISI KELAM PRIBADINYA” By @TrioMacan2000
BACA JUGA:
– “PENYESALAN PDI-P KOALISI DENGAN GERINDRA DALAM PILKADA DKI 2012″ ==> http://chirpstory.com/li/24420
– “PENOLAKAN PENCALONAN PRABOWO SEBAGAI CAPRES 2014″ ==> http://chirpstory.com/li/27443
– “Mengenal Sosok Prabowo Subianto Sang Jenderal Terbuang” ==> http://chirpstory.com/li/37502
– “YAHUDI INDONESIA RAYA & PRABOWO” ==> http://chirpstory.com/li/39391
– “The Untold Story: General (Ret) Prabowo Subianto” ==> http://chirpstory.com…

Post imported by Google+Blog for WordPress.