Tensymp 2016

Aku mengakhiri masa jabatan sebagai Chairman di IEEE Indonesia Section di awal 2015. Pemilu elektronis nan demokratis telah memilih New Chairman, Satrio Dharmanto, buat tahun 2015, yang bisa diperpanjang di 2016. Tapi aku ternyata aku gak boleh meninggalkan aktivitas di IEEE. Dr Ford Lumban Gaol segera berkontak, menyampaikan bahwa tahun Indonesia akan jadi tuan rumah IEEE TENSYMP 2016, dan kami berdua harus jadi ketua bersama (General Co-Chair) buat konferensi regional ini.

Waktu aku masih jadi Chairman di IEEE Indonesia Communications Society Chapter; IEEE Indonesia Section pernah jadi tuan rumah untuk IEEE TENCON 2011. TENCON adalah konferensi resmi dari IEEE Region 10 (Asia Pacific), yang umumnya diselenggarakan di akhir tahun. Sukses dengan TENCON, IEEE Region 10 mendirikan konferensi regional seri kedua sejak 2013. Mula-mula seri kedua ini disebut dengan TENCON Summer, karena diselenggarakan di pertengahan tahun. Namun, karena seri kedua ini diawali sebagai versi yang lebih kecil daripada TENCON, maka akhirnya konferensi ini dinamai TENSYMP, atau IEEE Regional 10 Symposium. TENSYMP diselenggarakan berturut-turut di Australia, Malaysia, India, dan tahun 2016 ini diselenggarakan di Indonesia.

10symp Logo v12

Tugas kami, tentu, adalah memastikan keberhasilan TENSYMP sebagai flagship conference dari Region 10. Paper harus diperoleh dari riset terbaru dan terbaik dari seluruh Asia Pasifik, pada tema yang sedang menjadi hal terpenting di Asia Pasifik. Ini menariknya TENSYMP. TENCON lebih bersifat general, sementara TENSYMP leluasa memilih topik yang dianggap paling menarik di tahun berjalan. Asia Pasifik masih jadi salah satu pusat pertumbuhan bisnis dan ekonomi berbasis teknologi terbesar di dunia. Masalah energi, informasi, hingga teknologi untuk kemanusiaan jadi soal yang sama pentingnya. Namun akhirnya kami memilih fokus tematis pada prakarsa-prakarsa baru di bidang TIK.

Topik dibagi atas 4 track, yaitu Building Blocks yang mengkaji riset dan gagasan fundamental atas pengembangan infrastruktur informasi masa depan, termasuk jaringan 5G mobile, IoT, hingga quantum networks; Architecture yang mendalami kerangka masa depan jaringan informasi, termasuk cognitive radio, cybernetics, dan big data; Critical Aspects yang mencoba menemu kenali titik-titik terpenting dalam pengembangan platform digital, termasuk pengoptimalan informasi konteks, ekonomika internet, dan green technology; serta Smart Applications yang mengeksplorasi berbagai peluang aplikasi dan produk yang memanfaatkan kecerdasan Internet masa depan.

Tensymp Tracks

TENSYMP akan diselenggarakan 9-11 Mei 2016 di Denpasar, Bali. Paper akan kami terima hingga 31 Januari 2016. Sebagai TPC Chair, kami memilih Prof Gamantyo Hendrantoro dari ITS, yang telah memiliki reputasi global, baik di sisi expertise maupun komitmen terhadap profesi. TPC (Technical Program Committee) diisi para expert dari kalangan akademisi dan profesional terkemuka dari berbagai negara, termasuk beberapa dari Indonesia.

Keynote Speaker untuk TENSYMP juga memiliki kelas berat. Prof Kukjin Chun adalah Direktur IEEE Region 10 di tahun 2016, sekaligus expert di bidang micromechanics dan microengineering. Prof Benjamin Wah adalah mantan Presiden IEEE Computer Society, juga expert di bidang artificial intelligence dan multimedia. Dr Rod van Meter, adalah bintang yang sedang bersinar dalam riset dan rekayasa quantum computing & quantum networks. Semua akan mewarnai TENSYMP dengan inpirasi terkini yang akan membekali para akademisi dan insinyur Indonesia dan dunia.

Foto-05-Keynote-03

Kami mengundang para akademisi dan profesional bidang TIK Indonesia untuk hadir dan berperan aktif dalam konferensi ini. Sungguh kesempatan menarik dan luar biasa buat kita semua. Sayang kalau yang hadir justru hanya para profesional dari luar negeri, terutama para kompetitor di MEA.

Informasi tentang TENSYMP 2016 dapat disimak di TENSYMP2016.ORG. Paper dapat dikirim melalui layanan EDAS, dengan alamat tertera di web TENSYMP. Seperti konferensi IEEE lainnya, paper akan diproses lebih lanjut di IEEE Xplore serta diajukan ke indeks SCOPUS.

Sampai jumpa di Bali, Mei 2016!

Orang Hardware Bandung

Hari Senin lalu (tanggal 21 Desember 2015), secara spontan diadakan kumpul-kumpul orang-orang Bandung yang tertarik dengan hardware (perangkat keras). Kalau istilah yang keren sekarang adalah IoT (Internet of Things). Acara ini merupakan bagian dari Procodecg CodeMeetUp() yang biasa dilakukan setiap hari Senin siang.

Saya kumpulkan orang-orang hardware dari generasi lama (generasi saya) dan generasi baru. Tujuannya adalah agar saling mengenal dan melakukan mentoring atau transfer pengalaman dari yang tua ke yang muda. Contoh yang senior-senior antara lain Yana Raharja, Jeffrey Samosir, Ihsan Haryadi, Trio Adiono. Sampai saat ini mereka masih melakukan pengembangan produk hardware.

IMG_0021 hw

Dalam foto di atas, Yana sedang menjelaskan bagaimana memasarkan produk hardware. Jangan teknis, tetapi manfaat apa yang diperoleh dari produk tersebut.

Yang muda-muda lebih banyak lagi; Cybreed, Dycode, Labtek Indie, dan lain-lain. Mereka sudah dan baru memulai mengembangkan produk-produk. Ke depannya, merekalah yang mejadi ujung tombak pengembangan produk-produk hardware.

IMG_0019 hw

Dulu ada masanya saya merasa ilmu Elektro (Elektronika) akan mati. Maka perlu ditutup jurusan Teknik Elektro di berbagai universitas di dunia. Lebih banyak orang yang senang mengembangkan software, karena modalnya lebih murah. Tinggal pakai komputer. Kalau bereksperimen dengan hardware harus beli komponen. Kalau salah, ya harus beli komponen lagi. Adanya demam IoT membuat masa depan harware cerah kembali.

Pertemuan kali ini baru untuk saling mengenal. Akan ada pertemuan-pertemuan lagi. Siap-siap hadir ya.


Filed under: bandung, Start-up, teknologi, Teknologi Informasi Tagged: bandung, IoT, postaday2015, Start-up, teknologi, Teknologi Informasi

Orang Hardware Bandung

Hari Senin lalu (tanggal 21 Desember 2015), secara spontan diadakan kumpul-kumpul orang-orang Bandung yang tertarik dengan hardware (perangkat keras). Kalau istilah yang keren sekarang adalah IoT (Internet of Things). Acara ini merupakan bagian dari Procodecg CodeMeetUp() yang biasa dilakukan setiap hari Senin siang.

Saya kumpulkan orang-orang hardware dari generasi lama (generasi saya) dan generasi baru. Tujuannya adalah agar saling mengenal dan melakukan mentoring atau transfer pengalaman dari yang tua ke yang muda. Contoh yang senior-senior antara lain Yana Raharja, Jeffrey Samosir, Ihsan Haryadi, Trio Adiono. Sampai saat ini mereka masih melakukan pengembangan produk hardware.

IMG_0021 hw

Dalam foto di atas, Yana sedang menjelaskan bagaimana memasarkan produk hardware. Jangan teknis, tetapi manfaat apa yang diperoleh dari produk tersebut.

Yang muda-muda lebih banyak lagi; Cybreed, Dycode, Labtek Indie, dan lain-lain. Mereka sudah dan baru memulai mengembangkan produk-produk. Ke depannya, merekalah yang mejadi ujung tombak pengembangan produk-produk hardware.

IMG_0019 hw

Dulu ada masanya saya merasa ilmu Elektro (Elektronika) akan mati. Maka perlu ditutup jurusan Teknik Elektro di berbagai universitas di dunia. Lebih banyak orang yang senang mengembangkan software, karena modalnya lebih murah. Tinggal pakai komputer. Kalau bereksperimen dengan hardware harus beli komponen. Kalau salah, ya harus beli komponen lagi. Adanya demam IoT membuat masa depan harware cerah kembali.

Pertemuan kali ini baru untuk saling mengenal. Akan ada pertemuan-pertemuan lagi. Siap-siap hadir ya.


Filed under: bandung, Start-up, teknologi, Teknologi Informasi Tagged: bandung, IoT, postaday2015, Start-up, teknologi, Teknologi Informasi

Bahaya Produk Proprietary

:: Juniper adalah salah satu vendor IT yang paling terkenal – dan barusan muncul info bahwa ada backdoor di produknya : http://boingboing.net/2015/12/21/juniper-networks-backdoor-conf.html

Backdoor ini memungkinkan siapa saja untuk masuk ke berbagai mesin Juniper dengan menggunakan password "<<< %s(un='%s') = %u". Sangat mengerikan.

Sebelumnya Edward Snowden juga mengungkapkan bahwa Cisco, saingan Juniper #1, juga sudah dibobol oleh NSA.

======
Cisco & Juniper membuat produk yang #proprietary, #tertutup. Customer mereka tidak bisa mengetahui isi dari produk mereka. Bukan open source.

Akibatnya, bisa terjadi hal seperti ini. Untuk kasus Juniper yang satu ini, backdoor NSA sudah ada sejak tahun 2012. Dan baru ketahuan sekarang.

Berbeda dengan Vyatta, dan berbagai produk open source lainnya. Karena #terbuka, maka jauh lebih sulit untuk bisa menyisipkan backdoor seperti ini tanpa ketahuan.

======
Satu lagi masalah produk proprietrary adalah ketergantungan dengan vendor.

Di kasus ini, solusi dari Juniper ternyata tidak tuntas menyelesaikan masalah : http://www.wired.com/2015/12/researchers-solve-the-juniper-mystery-and-they-say-its-partially-the-nsas-fault/

Dikutip :

"Even more worrisome is that Juniper systems are still essentially insecure"

"Weinmann says…It would take (just) one line of code to fix this"

Dengan produk #opensource, seperti #Vyatta, kita bahkan bisa membereskannya sendiri. Karena terbuka. Tidak tertutup.

======
Kini makin jelas bahwa produk proprietary adalah ancaman serius. Dan makin sulit untuk bisa di justifikasi penggunaannya.

Bagi yang menganggap penting sistem IT nya, apalagi terkait kepentingan nasional, sudah saatnya untuk berhenti menggunakan produk proprietary.



Juniper Networks backdoor confirmed, password revealed, NSA suspected
Juniper Networks makes a popular line of enterprise firewalls whose operating system is called Screen OS. The company raised alarm bells with a late-day-on-a-Friday advisory announcing that they’d …

Post imported by Google+Blog for WordPress.

Bahaya Produk Proprietary

:: Juniper adalah salah satu vendor IT yang paling terkenal – dan barusan muncul info bahwa ada backdoor di produknya : http://boingboing.net/2015/12/21/juniper-networks-backdoor-conf.html

Backdoor ini memungkinkan siapa saja untuk masuk ke berbagai mesin Juniper dengan menggunakan password "<<< %s(un='%s') = %u". Sangat mengerikan.

Sebelumnya Edward Snowden juga mengungkapkan bahwa Cisco, saingan Juniper #1, juga sudah dibobol oleh NSA.

======
Cisco & Juniper membuat produk yang #proprietary, #tertutup. Customer mereka tidak bisa mengetahui isi dari produk mereka. Bukan open source.

Akibatnya, bisa terjadi hal seperti ini. Untuk kasus Juniper yang satu ini, backdoor NSA sudah ada sejak tahun 2012. Dan baru ketahuan sekarang.

Berbeda dengan Vyatta, dan berbagai produk open source lainnya. Karena #terbuka, maka jauh lebih sulit untuk bisa menyisipkan backdoor seperti ini tanpa ketahuan.

======
Satu lagi masalah produk proprietrary adalah ketergantungan dengan vendor.

Di kasus ini, solusi dari Juniper ternyata tidak tuntas menyelesaikan masalah : http://www.wired.com/2015/12/researchers-solve-the-juniper-mystery-and-they-say-its-partially-the-nsas-fault/

Dikutip :

"Even more worrisome is that Juniper systems are still essentially insecure"

"Weinmann says…It would take (just) one line of code to fix this"

Dengan produk #opensource, seperti #Vyatta, kita bahkan bisa membereskannya sendiri. Karena terbuka. Tidak tertutup.

======
Kini makin jelas bahwa produk proprietary adalah ancaman serius. Dan makin sulit untuk bisa di justifikasi penggunaannya.

Bagi yang menganggap penting sistem IT nya, apalagi terkait kepentingan nasional, sudah saatnya untuk berhenti menggunakan produk proprietary.



Juniper Networks backdoor confirmed, password revealed, NSA suspected
Juniper Networks makes a popular line of enterprise firewalls whose operating system is called Screen OS. The company raised alarm bells with a late-day-on-a-Friday advisory announcing that they’d …

Post imported by Google+Blog for WordPress.

Tech tips for gaining international clients

cloud computing

Business has always been international, however, the current century has seen globalization become an established fact as worldwide supply chains and business relationships impact on companies of every size and in every sector.

Perhaps one of the most important developments on the international business scene has been the rise of the economies of Asian countries, China especially, as major participants challenging the former hegemony of America and Western Europe. The opening up of new markets and the emergence of new producers in Asia and elsewhere has largely been facilitated by the development of sophisticated global communications technology.

How has technology changed business?

Fifty years ago, international telecommunications was slow and unreliable. Documents and other items would have to be sent by post, taking several days at best and with no absolute guarantee that they would arrive safely. The alternative was for businessmen to make the journey themselves to meet clients, which again was time-consuming, expensive, and sometimes hazardous.

Now, emails allow instant communication to almost anywhere in the world, and documents can be sent the same way. Even international telephone communication is vastly improved, with mobile satellite technology getting signals to some of the most remote corners of the world. The result has been an opening up of the whole world to business collaborations and the tapping of hitherto unexploited markets.

Why are international markets important?

No business these days can afford to think of itself as an island, operating within its own limited national boundaries. International horizons mean getting supplies and labor at the most competitive rates and bringing your product to potentially vast numbers of consumers. If you’re not expanding internationally, you’re in danger of being left behind, and with the technology available, there’s really no excuse for not looking beyond your own country’s borders.

What technology do you need?

Every business obviously needs the best possible internet connection. Primus Business high-speed business internet, for instance, allows download speeds of up to 60Mbps, with first-rate customer service and technical support that will help keep your firm competitive.

Cloud computing has revolutionized international collaborations, with the possibility of documents being available to multiple users around the world who can collaborate in real-time editing. This is complemented by mobile technology such as smartphones and increasingly sophisticated tablets, allowing 24-hour connectivity in the field wherever you are.

Business-based social platforms such as LinkedIn are also important for making international business connections, but it’s also important to be able to follow up these initial contacts. Even in our digital age, we still like to see clients and colleagues face to face, which is why online video communication is so important. This lets us see the human being behind the technology.

Technology has made globalization a reality. Every business now needs to think internationally to stay competitive, and the technology is available for them to do so. When working with international clients, it’s vital to have the best technology available as only effective communication can make your collaboration work.

The post Tech tips for gaining international clients appeared first on BudiPutra.com.

My affair with trains

Tanah Abang Station, Central Jakarta
Tanah Abang Station, Central Jakarta

Everything about trains has always attracted me.

Let me tell you a story. During my childhood, each time I visited my father’s hometown in Sawahlunto, West Sumatra, I never missed the chance to take the train. There was a coal-burning passenger train there and its distinctive always beckoned me.

Unfortunately, in Payakumbuh, the town where I was born and raised, no trains were in operation. However, the remnants of its former glory remained visible. In Parit Rantang, Koto Nan Ampek, the old station building still stands, although it has been converted for another use. Bits and pieces of the once in use railway still peek out through the asphalt. In Padang, the town where I went to college, there are only freight trains. The passenger trains have not been in operation there for decades.

In 1996, in my capacity as a local journalist in Padang, I won a journalism scholarship to Japan for a few months. Traveling to Japan brought me much joy because I was able to ride on a train again. In Japan, the trains are more sophisticated running underground in Tokyo and all over the country.

Riding trains always brings back memories of train trips with my father who passed away in 1982.

These memories conjure a mixture of emotions; happiness and sadness intertwine.

When I moved to Jakarta in 2002 to work as a journalist in Tempo, I was pleased to see there were passenger trains, both diesel and electric train (KRL). However, since train operations in Jabodetabek were not optimal at that time, I instead chose to ride another form of public transportation like a bus.

In 2009, I joined the Internet giant Yahoo! Southeast Asia in Singapore. It was a good thing to find work in Singapore because I could then ride the MRT train all the time. A year later, I returned to Jakarta because Yahoo! already has an office in Jakarta. I only occasionally use KRL because the schedule is still not settled.

It has only been since 2012, when I joined the Jakarta Post, where its headquarter located in Palmerah that I am able to ride KRL every day. I feel the Jabodetabek KRL service [a commuter rail system in the Jakarta metropolitan area] is much better. The station gate already uses electronic cards. Almost all of stations were being renovated.

Yes, you’ve got it right. Any news about the trains has always attracted me. Including the story about the plan of Bandung bullet train project; or the Jakarta MRT project that’s being built and will be operational in the next two years.

Of course I once dreamed that Jakarta would have a sophisticated subway or MRT service some day, but not as soon as this.

For me, personally, this is definitely like a dream come true.

Jakarta MRT
Jakarta MRT project is undergoing [courtesy Detikcom]

The post My affair with trains appeared first on BudiPutra.com.

Panduan Membuat Start-Up

Dalam start-up saat ini ada istilah MVP, minimum viable product, yang menyatakan sebuah produk siap untuk diluncurkan. Membuat buku ternyata juga sama.

Ada banyak draft buku yang saya buat. Sebagian besar sampai sekarang masih dalam status draft meskipun sudah bertahun-tahun. Alasannya adalah saya merasa buku-buku tersebut belum siap untuk diterbitkan.

Untuk kali ini, buku tentang Start-up, saya putuskan MVP-nya adalah yang sekarang. Selamat menikmati versi 0.8 ini.

Buku ini akan saya perbaharui secara berkala. Link dari buku yang terbaru akan saya pasang di sini.


Filed under: Bisnis, buku, Start-up, teknologi, Teknologi Informasi Tagged: Bisnis, buku, postaday2015, Start-up, Teknologi Informasi

Panduan Membuat Start-Up

Dalam start-up saat ini ada istilah MVP, minimum viable product, yang menyatakan sebuah produk siap untuk diluncurkan. Membuat buku ternyata juga sama.

Ada banyak draft buku yang saya buat. Sebagian besar sampai sekarang masih dalam status draft meskipun sudah bertahun-tahun. Alasannya adalah saya merasa buku-buku tersebut belum siap untuk diterbitkan.

Untuk kali ini, buku tentang Start-up, saya putuskan MVP-nya adalah yang sekarang. Selamat menikmati versi 0.8 ini.

Buku ini akan saya perbaharui secara berkala. Link dari buku yang terbaru akan saya pasang di sini.


Filed under: Bisnis, buku, Start-up, teknologi, Teknologi Informasi Tagged: Bisnis, buku, postaday2015, Start-up, Teknologi Informasi

TechInAsia’s Indonesia’s startup landscape in 2015

Jakarta city
Courtesy keiretsuforum.com

How was Indonesia’s startup world going in 2015? They are growing well and getting more investment, too.  According to the Asia tech site TechInAsia, private venture capital contributed significantly into the ecosystem, while government plan to start investing into startup “have failed to materialize this year”.

Looks like transportation app Go-jek and Tokopedia were this year’s rock-stars, while Lippo Group’s MatahariMall was one of the rising stars.

The impact of tech companies became tangible in the offline world. New and cheap delivery services offered by Go-Jek became the talk of the town.

Billboards and TV screens all over the country were dominated by the bold adverts of commerce companies like Tokopedia and MatahariMall.

Checkout TechInAsia’s cool infographic on Indonesia Startup Ecosystem.

 

The post TechInAsia’s Indonesia’s startup landscape in 2015 appeared first on BudiPutra.com.