Image Recognition with TensorFlow – python

Bildschirmfoto 2017-05-28 um 7.53.32 PM Bildschirmfoto 2017-05-28 um 7.53.56 PM

  1. Start with this link https://www.tensorflow.org/tutorials/image_recognition#usage_with_python_api
  2. Download TensorFlow models repo from Github here https://github.com/tensorflow/models/blob/master/inception/inception/image_processing.py
  3. If you got errors with python, go here https://stackoverflow.com/questions/40357548/inception-v3-guide-on-tensorflow-broken-for-c-and-python
    or
    https://github.com/samjabrahams/tensorflow-on-raspberry-pi/issues/47
  4. Remove the argv command

Installing TensorFlow on MacOS Sierra

I can’t remember every steps but I need to leave some notes that I can refer to later 🙂 I just put everything I can remember here 🙂

The directory:

cd /usr/local/lib/python2.7/site-packages/tensorflow/bin
source activate tensorflow

code example to test

>> import tensorflow as tf
>>> hello = tf.constant(‘Hello, TensorFlow!’)
>>> sess = tf.Session()
>>> print sess.run(hello)
Hello, TensorFlow!
>>> a = tf.constant(10)
>>> b = tf.constant(32)
>>> print sess.run(a+b)
42
>>> quit()
(tensorflow) CG-MacBook-Pro-2:bin Marisa$ deactivate

Activating virtualenv

$ cd /path/to/tensorflow/bin
$ source activate tensorflow
$ python
>>> import tensorflow as tf
>>> print(tf.__version__)
1.0.1

Important links:

  1. https://www.tensorflow.org/install/install_mac#the_url_of_the_tensorflow_python_package
  2. https://thkim.org/tensorflow/tensorflowinstallation/tensorflowinstallationvirtualenv/
  3. https://github.com/tensorflow/tensorflow/issues/647
  4. https://codedump.io/share/6Oq22H5Uhoab/1/virtualenv-tensorflow-instalation-validation-with-importerror-no-module-named-tensorflow
  5. https://stackoverflow.com/questions/43647090/virtualenv-tensorflow-installation-validation-with-importerror-no-module-named
  6. http://python-guide-pt-br.readthedocs.io/en/latest/dev/virtualenvs/
  7. https://hackercodex.com/guide/python-development-environment-on-mac-osx/
  8. http://sourabhbajaj.com/mac-setup/Python/virtualenv.html

The journey:

Downloading TensorFlow

Bildschirmfoto 2017-05-25 um 7.09.57 PM

Install and update

Bildschirmfoto 2017-05-25 um 7.18.58 PM

Removing Anaconda

Bildschirmfoto 2017-05-25 um 7.25.06 PM

tensorflow library couldn’t be recognized. Installing gpu version

Bildschirmfoto 2017-05-25 um 8.01.42 PM

installing for python 2.7

Bildschirmfoto 2017-05-25 um 9.57.24 PM

reinstalling python and fixing the PATH

Bildschirmfoto 2017-05-25 um 10.25.47 PM

installing virtualenv

Bildschirmfoto 2017-05-25 um 11.33.43 PM

installing tensorflow on virtualenv

Bildschirmfoto 2017-05-26 um 1.14.44 PM

tensorflow had been successfully installed on virtualenv

Bildschirmfoto 2017-05-26 um 1.24.11 PM

tensorflow library still not recognized

Bildschirmfoto 2017-05-26 um 1.32.30 PM

finally figure out how to activate the virtualenv

Bildschirmfoto 2017-05-26 um 1.50.15 PM

library recognized but there were errors!

Bildschirmfoto 2017-05-26 um 1.50.42 PM

reinstall tensorflow to the activated virtualenv, and it worked!

Bildschirmfoto 2017-05-26 um 1.54.14 PM

YES!!! 🙂 Now I’m ready to explore! 😉

Bildschirmfoto 2017-05-26 um 2.16.10 PM

Pidato Kebudayaan – Nostalgia Masa Depan Manusia

Saya sungguh beruntung diberi sebuah kehormatan untuk menjadi penyaji Pidato Kebudayaan 2017 oleh Dewan Kesenian Jakarta. Pidato kebudayaan ini adalah program tahunan DKJ yang berlangsung sejak 1989. Sudah banyak tokoh-tokoh nasional yang menjadi penyaji pidato, dari Umar Kayam, hingga Fuad Hassan, dan Habibie. Tokoh-tokoh yang pemikirannya mewarnai kehidupan intelektual di Indonesia. Sebagaimana hal nya dengan warna, pemikiran adalah soal selera. Ide yang diterima luas tidak serta merta merupakan ide yang berkualitas. Juga sebaliknya, ide yang tidak diterima bukan berarti tidak berkualitas. Selera memiliki siklusnya sendiri, selera datang dan pergi secara acak. Kita manusia selalu tergopoh-gopoh mencari dan memberikan makna pada selera-selera yang sempat mampir itu. Pada hari Jumat saya diberikan kesempatan untuk menawarkan sebuah selera yang mudah-mudahan cukup menyegarkan dan menghentak. Membuat kita terpaksa diam sejenak, mereflektifkan diri tentang dari mana, sedang ada di mana, dan mau kemana kita.

Saya akan ambil manusia sebagai pusat perhatian. Lalu saya akan gunakan berbagai kaca-mata untuk melihat manusia melalui spektrumnya masing-masing. Setiap kaca-mata akan memberikan spektrum berbeda sekaligus realitas yang berbeda pula. Penglihatan dari berbagai sudut pandang ini bukanlah sebagai usaha untuk obyektif. Obyektif adalah hal yang sia-sia. Melainkan, keragaman sudut pandang saya harapkan memberikan kesan kaya akan makna. Membuat kita merasa memiliki pilihan makna. Sampai kita sadar bahwa makna datang dari kita sendiri dan terbentuk atas bantuan waktu. Makna adalah cara masa depan merubah masa lalu. Kreatifitas manusia adalah mesin makna yang terus bekerja selamanya. Sampai jumpa Jumat malam: http://bit.ly/suarajernihdaricikini.

Pidato Kebudayaan – Nostalgia Masa Depan Manusia

Saya sungguh beruntung diberi sebuah kehormatan untuk menjadi penyaji Pidato Kebudayaan 2017 oleh Dewan Kesenian Jakarta. Pidato kebudayaan ini adalah program tahunan DKJ yang berlangsung sejak 1989. Sudah banyak tokoh-tokoh nasional yang menjadi penyaji pidato, dari Umar Kayam, hingga Fuad Hassan, dan Habibie. Tokoh-tokoh yang pemikirannya mewarnai kehidupan intelektual di Indonesia. Sebagaimana hal nya dengan warna, pemikiran adalah soal selera. Ide yang diterima luas tidak serta merta merupakan ide yang berkualitas. Juga sebaliknya, ide yang tidak diterima bukan berarti tidak berkualitas. Selera memiliki siklusnya sendiri, selera datang dan pergi secara acak. Kita manusia selalu tergopoh-gopoh mencari dan memberikan makna pada selera-selera yang sempat mampir itu. Pada hari Jumat saya diberikan kesempatan untuk menawarkan sebuah selera yang mudah-mudahan cukup menyegarkan dan menghentak. Membuat kita terpaksa diam sejenak, mereflektifkan diri tentang dari mana, sedang ada di mana, dan mau kemana kita.

Saya akan ambil manusia sebagai pusat perhatian. Lalu saya akan gunakan berbagai kaca-mata untuk melihat manusia melalui spektrumnya masing-masing. Setiap kaca-mata akan memberikan spektrum berbeda sekaligus realitas yang berbeda pula. Penglihatan dari berbagai sudut pandang ini bukanlah sebagai usaha untuk obyektif. Obyektif adalah hal yang sia-sia. Melainkan, keragaman sudut pandang saya harapkan memberikan kesan kaya akan makna. Membuat kita merasa memiliki pilihan makna. Sampai kita sadar bahwa makna datang dari kita sendiri dan terbentuk atas bantuan waktu. Makna adalah cara masa depan merubah masa lalu. Kreatifitas manusia adalah mesin makna yang terus bekerja selamanya. Sampai jumpa Jumat malam: http://bit.ly/suarajernihdaricikini.