Bukalapak empowers mom and pop shops through O2O service

Achmad Zaky
Bukalapak founder & CEO Achmad Zaky

Indonesian online commerce company Bukalapak continues to expand its business and impact by offering offline services to small businesses in rural areas.

The company has started serving offline merchants who want to take their business online. Furthermore, Bukalapak has also been signing up warung or mom and pop shop owners to become O2O (Online to Offline) agents.

Fajrin Rasyid
Bukalapak co-founder and president Fajrin Rasyid

These agents help shoppers without internet access or those reluctant to make online purchases to order online products but pay in cash. Agents then use an online app provided by Bukalapak to buy from the company’s site, and earn a commission for each order they make. Last year alone, Bukalapak already had over 300,000 warung owners as agents, Bukalapak co-founder and president Muhammad Fajrin Rasyid recently told Bloomberg.

According to Co-Founder and CEO Achmad Zaky, the move is in line with the company’s mission to become a small business ecosystem.

“E-commerce is just one of our businesses,” he said while being interviewed recently on stage at Tech in Asia Tokyo 2018.

Bukalapak started off as an e-commerce company in 2010, but in the last few years it expanded into a number of different online services, most notably financial services like loans, credit and insurance, as well as mutual fund and gold investment products.

The post Bukalapak empowers mom and pop shops through O2O service appeared first on BudiPutra.com.

Nostalgia – Dunia Selebar Daun Kelor

GATRA 18 September 2003

ILMU & TEKNOLOGI

Dunia Selebar Daun Kelor

Teori dunia kecil mengangkat anak Bandung ke pentas dunia. Menarik minat Swiss Bank, Nasdaq, America Online, juga eBay. Belum ada perusahaan Indonesia yang berminat.

NAMA Roby Muhammad, anak muda asal Bandung, tiba-tiba saja menjadi buah bibir di Amerika Serikat. Sejak awal Agustus lalu, setelah artikel “An Experimental Study of Search in Global Social Networks” dicetak majalah Science, ia sibuk menerima wawancara berbagai media pers dunia, termasuk jaringan televisi CNN yang mewawancarainya selama 10 menit, 10 Agustus lalu, dalam acara “Next@CNN”.

Roby Muhammad, 28 tahun, memang tak sendirian menulis artikel ilmiah itu. Eksperimen ini bagian dari Proyek Small World yang digarap bersama Duncan Watts, guru besar sosiologi Columbia University, New York, dan Dr. Peter Dodds, periset dari Earth Institute. Prof Watts, yang juga ahli fisika di Universitas Cornell itu, tak lain pembimbing Roby untuk tingkat doktoral di Departemen Sosiologi Universitas Columbia.

Fenomena dunia kecil (small world) Watts cs mendapat sorotan karena bisa membuktikan teori six degrees of separation-nya Stanley Milgram yang telah berumur 35 tahun. Pada 1967, Milgram membuat surat berantai untuk meneliti jaring sosial masyarakat Amerika. Riset yang melibatkan 300 responden itu membuktikan: rata-rata ada enam orang sebagai selang pemisah untuk mempertemukan dua orang Amerika yang telah saling mengenal.

Sejak itu, fenomena six degrees of separation Milgram menjadi teori yang dianggaap sahih, meski ketika itu media kontaknya adalah surat pos. Masihkah berlaku teori itu di era global dan masa kejayaan surat elektronik (e-mail)? Inilah yang dibuktikan Prof. Watts, Dodds, dan Roby.

Roby adalah anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Prof. Wahyu Karhiwikarta –spesialis kedokteran olahraga– dan dokter spesialis anak Hanariah Wahyu. Di rumah, Roby biasa dipanggil Obi. “Kami selalu menganggap Obi sebagai anak kecil,” kata Ninon Ratna Artsati, 38 tahun, kakak nomor duanya, kepada Taufik Abriansyah dari Gatra.

Obi lahir dan tumbuh di Bandung hingga tamat dari Jurusan Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB). Menjadi ilmuwan rupanya diidamkannya sejak kecil. “Ayah saya adalah ilmuwan pertama yang saya kenal. Dari beliaulah saya belajar mendedikasikan hidup pada ilmu. Dari Ibu, saya belajar mengabdi kepada keluarga dan masyarakat, dan itu menjadikan hidup lebih berharga,” tutur Roby.

Teori “dunia selebar daun kelor”-nya itu ia ungkapkan dalam wawancara khusus dengan Didi Prambadi, koresponden Gatra di New York. Di sela-sela kesibukannya melakukan penelitian dan menemani istrinya, Tika Sukarna –sedang mengambil program doktor biologi di City University of New York– yang tengah menanti kelahiran buah cinta mereka. Berikut petikannya:

Apa arti penting proyek small world yang Anda kerjakan ini?

Pada tahun 2000, saya mengajukan proyek untuk program master di Columbia University. Ide awalnya hanya replikasi dari Milgram. Saya ajukan ke Prof. Duncan Watts, diterima. Beliau punya ide yang sama tentang hal itu.

Fenomena small world pertama kali dicetuskan Duncan Watts bersama Steve Strogatz pada 1998. Temuan ini bersifat teoretis. Saya pikir, akan lebih baik dilakukan penelitian di lapangan. Setelah berembuk, kami bertiga sepakat sehingga lahirlah proyek itu, melibatkan 60.000 orang yang tersebar di 167 negara, termasuk Indonesia.

Dari eksperimen yang berlangsung selama dua tahun dengan target 18 orang (termasuk Indonesia), bisa disimpulkan bahwa rantai pesan di satu negara jumlah rata-ratanya lima. Sedangkan untuk antarnegara jumlahnya tujuh.

Mulai Agustus lalu, kami mengerjakan eksperimen kedua. Kami belum bisa menentukan berapa banyak yang bakal terlibat dalam proyek kali ini. Makin banyak responden, makin baik hasilnya. Karena itu, kami mengimbau warga Indonesia ikut berpartisipasi dalam Proyek Small World ini melalui http://smallworld.columbia.edu.

Mengingat teknologi informasi makin canggih, mampukah rantai pesan itu diperkecil, misalnya menjadi hanya tiga atau empat?

Tujuan eksperimen kami tidak memperkecil jumlah rantai pesan. Meskipun begitu, eksperimen dunia kecil menunjukkan bahwa jalur singkat memang ada. Artinya, meski jaringan sosial secara global sangat kompleks, individu dengan informasi terbatas secara kolektif mampu melakukan proses pencarian sosial.

Bagaimana penerapan teori ini dalam dunia bisnis?

Aplikasinya bisa saja ke situ. Tapi, kami belum punya konsep yang cukup signifikan untuk masalah bisnis. Bagaimanapun, eksperimen kami mengarah ke sana. Kita bisa mengerti bagaimana krisis keuangan terjadi sehingga mampu mengantisipasi sebelumnya. Misalnya, ketika melakukan penjajakan awal dengan Swiss Bank, mereka tertarik pada ide kami. Yakni adanya informal network. Selama ini, para pemain saham di bursa membeli saham andalan yang tengah turun harganya.

Pada kenyataannya, tak hanya harga saham yang mempengaruhi. Sebelum membeli saham, mereka menelepon kawan atau sesama pialang untuk menanyakan pendapat tentang satu saham. Banyak yang membeli saham berkat pengaruh kawan atau pemain lainnya, meski harganya tetap tinggi. Pengaruh seperti inilah yang belum pernah diteliti secara ilmiah di bursa saham.

Di samping Swiss Bank, Nasdaq pun melakukan pendekatan pada tim kami untuk meneliti bursa saham dunia. Kami juga sudah mendapatkan e-mail network milik America Online, juga eBay (penyelenggara jual-beli barang lewat internet). Dengan eBay, kami akan meneliti bagaimana pasar bisa terjadi dan barang apa saja yang paling laku.

Adakah badan lain yang tertarik pada tim ini?

Angkatan Laut Amerika Serikat melakukan pendekatan pada kami, untuk mencari model struktur jaringan organisasi yang tahan terhadap guncangan. Sebab, pada waktu peristiwa 11 September 2001, bagian yang pertama kali hancur adalah kantor Emergency World Trade Center. Banyak warga New York kehilangan sanak familinya. Dan sejak itu, banyak yang bertanya, model struktur organisasi apa yang tahan terhadap guncangan seperti itu.

Adakah perusahaan dari Indonesia yang tertarik pada proyek Anda?

Belum. Maklum, banyak perusahaan yang masih beranggapan: keuntungan apa yang bisa kita dapatkan dari penelitian seperti ini. Mereka juga banyak yang mengharapkan penelitian ini sukses. Padahal, eksperimen juga meneliti kegagalan. Tidak hanya yang sukses.

Apa rencana Anda setelah proyek kedua usai?

Kami akan melakukan penelitian epidemologi tentang penyebaran penyakit HIV, SARS, malaria, dan penyakit menular lainnya. Dan itu banyak terdapat di Indonesia. Saya melihat Indonesia menyimpan potensi masalah sosial lebih besar untuk jangka panjang. Fenomenanya cukup kaya. Misalnya tentang penderita AIDS yang masih ditutupi, juga masalah sosial lain yang sangat beragam. Karena itu, setelah saya menamatkan program PhD pada 2007, saya akan kembali ke Indonesia.

Karena itukah Anda tertarik pada ilmu sosial ketimbang fisika yang pernah Anda pelajari di ITB?

Benar. Gerakan reformasi di Indonesia pada 1998 dan munculnya berbagai konflik sosial membuat saya terkesima. Analisis matematis di fisika tentu bisa membantu analisis masalah sosial. Untungnya, saat itu berkembang studi kompleksitas. Saya tertarik pada studi jaringan kompleks dan beranggapan bahwa ilmu jaringan berguna untuk mempelajari sistem sosial yang kompleks.

Waktu berangkat ke Amerika Serikat untuk meneruskan studi, saya menghubungi Harrison White, doktor fisika teori dari Institut Teknologi Massachussetts dan doktor sosiologi dari Universitas Princeton. Namun, karena White sedang melakukan penelitian di Prancis, saya diperkenalkan dengan Prof. Duncan Watts, guru besar sosiologi di Columbia University. Sejak itu, kami bekerja sama dalam proyek ini.

Bagaimana penerapan ilmu jaringan ini di bidang politik?

Secara teoretis, eksperimen di bidang politik pernah dilakukan pada 1957 oleh Manfred Kochen, ahli politik dari Michigan. Dalam eksperimennya, Kochen meneliti pengaruh politik dari sebuah persahabatan atau hubungan antarkawan. Di bidang sosial, baru kelompok kami yang melakukan eksperimen secara global.

Siapa yang membiayai proyek ini?

Kami mendapat bantuan dari perusahaan Intel, dari National Science Fund, badan bantuan federal Amerika Serikat, dan Columbia University, berjumlah total sekitar US$ 1,5 juta. Untuk eksperimen kedua, kami mendapat dana dari James McDonnell Foundation sebesar US$ 450.000 untuk jangka tiga tahun.

Siapakah sosiolog besar yang Anda kagumi?

Steven Strogatz dari Cornell University. Hasil risetnya menunjukkan bahwa serombongan kunang-kunang dari lokasi yang berlainan akan “berkelip selaras” bila berkumpul bersama. Dan para wanita yang tinggal bersama-sama dalam satu rumah besar kemungkinan mengalami haid dalam kurun waktu bersamaan