BPPT Buckber

BPPT invited Engineering Professional Organisations in a short iftar session today. The IEEE Indonesia Section was represented by some volunteers (incl Dr Hugeng, Dr Wahidin, Amanda, and yours truly), since the Excom members were too busy.

Surely here I met some old connections, happily. I met Prof Ashwin, Dr Lubis, Prof Suhono, etc.

Unfortunately, this was only a short session — ended just before Isya & Tarawih.

 

Teknologi & Politik

Baru-baru ini beredar berita tentang Google yang membatasi akses Huawei terhadap kode Android dan layanan Google lainnya (Google Play, Gmail App). [Link berita akan saya kumpulkan dan letakkan di bagian akhir dari tulisan ini.] Ini berita yang cukup menggemparkan meskipun merupakan sesuatu yang sudah lama diduga oleh negara-negara yang bergantung kepada layanan sebuah perusahaan di sebuah negara tertentu. Mereka tidak mengira bahwa hal ini akan dieksekusi.

Sebagai sebuah perusahaan yang berdomisili di Amerika, Google harus taat kepada peraturan dari pemerintah Amerika Serikat. Maka ketika pemerintah Amerika Serikat memutuskan bahwa perusahaan Huawei melanggar berbagai keputusannya [dibutuhkan referensi di sini] maka pemerintah melarang perusahaan lain untuk melakukan bisnis dengan Huawei. Mau tidak mau Google (dan perusahaan Amerika lainnya) harus nurut.

source: https://www.theasset.com/belt-road-online/35604/us-warns-europe-against-using-huawei-

Ini merupakan contoh politik yang mempengaruhi bisnis. Sebetulnya kalau mau ditelaah lebih lanjut lagi, ini mempengaruhi teknologi. Sedemikian pentingnya teknologi sehingga menjadi salah satu penentu keputusan. Kali ini teknologi 5G yang menjadi perebutan. Setelah ini kemungkinan teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence / AI) yang akan mendapat perhatian yang sama, karena AI ini sama pentingnya (bahkan dapat dikatakan lebih penting) dari teknologi 5G.

Berulangkali saya katakan kepada mahasiswa saya agar tidak buta politik, tetapi jangan terjun ke politik praktis. Pahamilah politik sehingga kita tidak tersesat atau bahkan ditunggangi oleh kepentingan politik (praktis).

Lantas bagaimana dengan kita di Indonesia?

Kasus ini membuka mata kita seberapa tergantungnya kita dengan teknologi asing. Begitu pihak asing menutup teknologi tersebut, matilah kita. Maka kemandirian teknologi bukanlah isapan jempol. Dia merupakan sebuah hal yang riil. Kedaulatan Teknologi.

Contoh yang riil. Beberapa waktu yang lalu (tahunan?), kami pernah mengusulkan adanya “app store” sendiri. Handphone yang beredar di Indonesia dapat menggunakan “app store” kita sendiri. Namun nampaknya ide ini belum mendapat dukungan dan bahkan tidak dimengerti. Sekarang semoga kita mengerti mengapa perlu ada “local app store“. (Rincian mengenai hal ini masih harus dibahas. The devils are in the details.)

Demikian pula kemampuan untuk membuat kernel dari sistem operasi (terutama untuk handphone) juga merupakan hal yang utama. Tidak banyak orang Indonesia yang ngoprek tentang hal ini. Saya hanya tahu beberapa orang saja. Apakah Anda pernah ngoprek kernel sebuah sistem operasi?

Kebutuhan SDM (sumber daya manusia) yang menguasai teknologi-teknologi ini secara mendalam dapat dikatakan sangat kritis. Darurat SDM teknologi. Apakah kita akan menunggu sampai kita diblokir dulu baru kemudian bergerak?

Tautan terkait berita Huawei

Golput dan Memilih dengan Rasional

Sedikitnya ada tiga alasan mengapa seseorang menjadi golput. Pertama, seseorang menjadi golput karena di luar kehendak; misalnya sebetulnya ingin memilih tetapi karena suatu hal —misalnya sakit parah—dia tidak memilih. Kedua, golput sebagai pernyataan politik yang mengisyaratkan ketidakpercayaan pada sistem yang ada.

Ketiga, golput menganggap memilih bukan perilaku rasional karena tidak memberi keuntungan apa-apa bagi diri sendiri.

Untung Rugi

Seseorang dikatakan berperilaku rasional jika perilakunya didasarkan pada penghitungan untung-rugi. Jika seseorang memilih perilaku yang paling menguntungkan dirinya, perilaku itu dianggap rasional. Ikut memilih dalam pemilihan presiden apakah rasional atau bukan? Apa untungnya memberikan satu suara di antara ratusan juta suara lain?Memang satu suara yang diberikan hampir pasti tidak memengaruhi hasil pemilihan presiden. Di antara sekitar 170 juta pemilih, pengaruh satu suara bisa diabaikan. Karena itu, kelihatannya memilih dalam pemilihan presiden bukan tindakan rasional karena kemungkinan suara yang diberikan memengaruhi hasil pemilu presiden amatlah kecil.

Argumen ini bisa diperluas, bukan hanya sekadar tindakan memilih tetapi juga apakah rasional bagi kita untuk peduli proses pemilihan presiden secara umum. Jika suara kita tidak bisa memengaruhi hasil pemilihan presiden, untuk apa kita menghabiskan waktu dan energi mendengarkan janji-janji yang disampaikan para calon presiden?

Bagi masing-masing individu, memilih memang tidak rasional. Tetapi hasil pemilihan ini berdampak bagi 250 juta orang Indonesia. Misalkan, presiden baru terpilih bisa meningkatkan kualitas hidup orang Indonesia sebesar Rp 100.000 secara rata-rata, maka memilih presiden mirip dengan mengambil undian gratis dengan hadiah Rp 2,5 triliun.

Jadi, meski kecil kemungkinan suara pilihan kita menentukan pemenang pemilu presiden, dampaknya amat besar. Dalam ilmu statistik, hal ini dikenal sebagai peristiwa yang memiliki probabilitas kecil, tetapi nilai ekspektasinya besar.

Nilai ekspektasi adalah hasil perkalian dari probabilitas kejadian dengan dampak kejadian sehingga meski probabilitasnya kecil, jika dampaknya besar, ekspektasinya besar pula. Probabilitas adalah konsep abstrak, tetapi nilai ekspektasi mempunyai nilai riil; dalam contoh itu adalah uang Rp 2,5 triliun. Jadi, pilihan rasional bukan memilih hanya berdasarkan probabilitas tertinggi, tetapi memilih berdasarkan nilai ekspektasi tertinggi.

Perilaku Nasional

Dari paparan itu terlihat, memilih termasuk perilaku rasional, asal keuntungan yang dimaksud bukan keuntungan pribadi tetapi keuntungan sosial. Dengan kata lain, memilih berdasarkan dampak sosial memiliki ekspektasi jauh lebih besar daripada memilih berdasarkan dampak pribadi. Artinya, pemilih rasional tidak memilih kandidat yang dipercaya akan memberi keuntungan pribadi, tetapi kandidat yang dipercaya akan memberi keuntungan untuk seluruh rakyat.

Hasil penelitian beberapa ilmuwan politik di Columbia University, New York, memperlihatkan pemilih di AS memilih berdasarkan keuntungan (preferensi) sosial, bukan individu. Penemuan ini membantah pendapat dari sebagian ekonom—misalnya ekonom Steven Levitt pengarang buku populer Freakonomics—yang menganggap memilih dalam pemilu tidak rasional karena tidak memberi keuntungan pribadi.

Mencoblos dalam pemilu bisa dianggap perilaku rasional. Kuncinya adalah memperluas definisi perilaku rasional itu. Kebanyakan ekonom dan ilmuwan sosial menganggap rasionalitas didasarkan keuntungan individu; di sini rasionalitas sama dengan egoisme. Padahal, perilaku rasional dapat juga didefinisikan bukan hanya sebagai perilaku yang memberikan keuntungan pribadi, tetapi juga perilaku yang memberi keuntungan sosial.

Dalam kasus perilaku memilih dalam pemilu malah tidak rasional jika seseorang bertindak egois. Sebab, seorang egois hanya memikirkan keuntungan pribadi, sedangkan mencoblos dalam pemilu tidak memberi keuntungan pribadi.

Dalam konteks pemilihan umum jika Anda ingin menjadi orang rasional, ikutlah memilih dan pilih kandidat yang dipercaya membawa kebaikan bagi negara secara umum, bukan baik bagi Anda saja. Jika Anda memilih hanya untuk kepentingan pribadi, Anda tidak rasional.

Nostalgia – Dunia Selebar Daun Kelor

Dunia Selebar Daun Kelor

Teori dunia kecil mengangkat anak Bandung ke pentas dunia. Menarik minat Swiss Bank, Nasdaq, America Online, juga eBay. Belum ada perusahaan Indonesia yang berminat.

NAMA Roby Muhammad, anak muda asal Bandung, tiba-tiba saja menjadi buah bibir di Amerika Serikat. Sejak awal Agustus lalu, setelah artikel “An Experimental Study of Search in Global Social Networks” dicetak majalah Science, ia sibuk menerima wawancara berbagai media pers dunia, termasuk jaringan televisi CNN yang mewawancarainya selama 10 menit, 10 Agustus lalu, dalam acara “Next@CNN”.

Roby Muhammad, 28 tahun, memang tak sendirian menulis artikel ilmiah itu. Eksperimen ini bagian dari Proyek Small World yang digarap bersama Duncan Watts, guru besar sosiologi Columbia University, New York, dan Dr. Peter Dodds, periset dari Earth Institute. Prof Watts, yang juga ahli fisika di Universitas Cornell itu, tak lain pembimbing Roby untuk tingkat doktoral di Departemen Sosiologi Universitas Columbia.

Fenomena dunia kecil (small world) Watts cs mendapat sorotan karena bisa membuktikan teori six degrees of separation-nya Stanley Milgram yang telah berumur 35 tahun. Pada 1967, Milgram membuat surat berantai untuk meneliti jaring sosial masyarakat Amerika. Riset yang melibatkan 300 responden itu membuktikan: rata-rata ada enam orang sebagai selang pemisah untuk mempertemukan dua orang Amerika yang telah saling mengenal.

Sejak itu, fenomena six degrees of separation Milgram menjadi teori yang dianggaap sahih, meski ketika itu media kontaknya adalah surat pos. Masihkah berlaku teori itu di era global dan masa kejayaan surat elektronik (e-mail)? Inilah yang dibuktikan Prof. Watts, Dodds, dan Roby.

Roby adalah anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Prof. Wahyu Karhiwikarta –spesialis kedokteran olahraga– dan dokter spesialis anak Hanariah Wahyu. Di rumah, Roby biasa dipanggil Obi. “Kami selalu menganggap Obi sebagai anak kecil,” kata Ninon Ratna Artsati, 38 tahun, kakak nomor duanya, kepada Taufik Abriansyah dari Gatra.

Obi lahir dan tumbuh di Bandung hingga tamat dari Jurusan Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB). Menjadi ilmuwan rupanya diidamkannya sejak kecil. “Ayah saya adalah ilmuwan pertama yang saya kenal. Dari beliaulah saya belajar mendedikasikan hidup pada ilmu. Dari Ibu, saya belajar mengabdi kepada keluarga dan masyarakat, dan itu menjadikan hidup lebih berharga,” tutur Roby.

Teori “dunia selebar daun kelor”-nya itu ia ungkapkan dalam wawancara khusus dengan Didi Prambadi, koresponden Gatra di New York. Di sela-sela kesibukannya melakukan penelitian dan menemani istrinya, Tika Sukarna –sedang mengambil program doktor biologi di City University of New York– yang tengah menanti kelahiran buah cinta mereka. Berikut petikannya:

Apa arti penting proyek small world yang Anda kerjakan ini?

Pada tahun 2000, saya mengajukan proyek untuk program master di Columbia University. Ide awalnya hanya replikasi dari Milgram. Saya ajukan ke Prof. Duncan Watts, diterima. Beliau punya ide yang sama tentang hal itu.

Fenomena small world pertama kali dicetuskan Duncan Watts bersama Steve Strogatz pada 1998. Temuan ini bersifat teoretis. Saya pikir, akan lebih baik dilakukan penelitian di lapangan. Setelah berembuk, kami bertiga sepakat sehingga lahirlah proyek itu, melibatkan 60.000 orang yang tersebar di 167 negara, termasuk Indonesia.

Dari eksperimen yang berlangsung selama dua tahun dengan target 18 orang (termasuk Indonesia), bisa disimpulkan bahwa rantai pesan di satu negara jumlah rata-ratanya lima. Sedangkan untuk antarnegara jumlahnya tujuh.

Mulai Agustus lalu, kami mengerjakan eksperimen kedua. Kami belum bisa menentukan berapa banyak yang bakal terlibat dalam proyek kali ini. Makin banyak responden, makin baik hasilnya. Karena itu, kami mengimbau warga Indonesia ikut berpartisipasi dalam Proyek Small World ini melalui http://smallworld.columbia.edu.

Mengingat teknologi informasi makin canggih, mampukah rantai pesan itu diperkecil, misalnya menjadi hanya tiga atau empat?

Tujuan eksperimen kami tidak memperkecil jumlah rantai pesan. Meskipun begitu, eksperimen dunia kecil menunjukkan bahwa jalur singkat memang ada. Artinya, meski jaringan sosial secara global sangat kompleks, individu dengan informasi terbatas secara kolektif mampu melakukan proses pencarian sosial.

Bagaimana penerapan teori ini dalam dunia bisnis?

Aplikasinya bisa saja ke situ. Tapi, kami belum punya konsep yang cukup signifikan untuk masalah bisnis. Bagaimanapun, eksperimen kami mengarah ke sana. Kita bisa mengerti bagaimana krisis keuangan terjadi sehingga mampu mengantisipasi sebelumnya. Misalnya, ketika melakukan penjajakan awal dengan Swiss Bank, mereka tertarik pada ide kami. Yakni adanya informal network. Selama ini, para pemain saham di bursa membeli saham andalan yang tengah turun harganya.

Pada kenyataannya, tak hanya harga saham yang mempengaruhi. Sebelum membeli saham, mereka menelepon kawan atau sesama pialang untuk menanyakan pendapat tentang satu saham. Banyak yang membeli saham berkat pengaruh kawan atau pemain lainnya, meski harganya tetap tinggi. Pengaruh seperti inilah yang belum pernah diteliti secara ilmiah di bursa saham.

Di samping Swiss Bank, Nasdaq pun melakukan pendekatan pada tim kami untuk meneliti bursa saham dunia. Kami juga sudah mendapatkan e-mail network milik America Online, juga eBay (penyelenggara jual-beli barang lewat internet). Dengan eBay, kami akan meneliti bagaimana pasar bisa terjadi dan barang apa saja yang paling laku.

Adakah badan lain yang tertarik pada tim ini?

Angkatan Laut Amerika Serikat melakukan pendekatan pada kami, untuk mencari model struktur jaringan organisasi yang tahan terhadap guncangan. Sebab, pada waktu peristiwa 11 September 2001, bagian yang pertama kali hancur adalah kantor Emergency World Trade Center. Banyak warga New York kehilangan sanak familinya. Dan sejak itu, banyak yang bertanya, model struktur organisasi apa yang tahan terhadap guncangan seperti itu.

Adakah perusahaan dari Indonesia yang tertarik pada proyek Anda?

Belum. Maklum, banyak perusahaan yang masih beranggapan: keuntungan apa yang bisa kita dapatkan dari penelitian seperti ini. Mereka juga banyak yang mengharapkan penelitian ini sukses. Padahal, eksperimen juga meneliti kegagalan. Tidak hanya yang sukses.

Apa rencana Anda setelah proyek kedua usai?

Kami akan melakukan penelitian epidemologi tentang penyebaran penyakit HIV, SARS, malaria, dan penyakit menular lainnya. Dan itu banyak terdapat di Indonesia. Saya melihat Indonesia menyimpan potensi masalah sosial lebih besar untuk jangka panjang. Fenomenanya cukup kaya. Misalnya tentang penderita AIDS yang masih ditutupi, juga masalah sosial lain yang sangat beragam. Karena itu, setelah saya menamatkan program PhD pada 2007, saya akan kembali ke Indonesia.

Karena itukah Anda tertarik pada ilmu sosial ketimbang fisika yang pernah Anda pelajari di ITB?

Benar. Gerakan reformasi di Indonesia pada 1998 dan munculnya berbagai konflik sosial membuat saya terkesima. Analisis matematis di fisika tentu bisa membantu analisis masalah sosial. Untungnya, saat itu berkembang studi kompleksitas. Saya tertarik pada studi jaringan kompleks dan beranggapan bahwa ilmu jaringan berguna untuk mempelajari sistem sosial yang kompleks.

Waktu berangkat ke Amerika Serikat untuk meneruskan studi, saya menghubungi Harrison White, doktor fisika teori dari Institut Teknologi Massachussetts dan doktor sosiologi dari Universitas Princeton. Namun, karena White sedang melakukan penelitian di Prancis, saya diperkenalkan dengan Prof. Duncan Watts, guru besar sosiologi di Columbia University. Sejak itu, kami bekerja sama dalam proyek ini.

Bagaimana penerapan ilmu jaringan ini di bidang politik?

Secara teoretis, eksperimen di bidang politik pernah dilakukan pada 1957 oleh Manfred Kochen, ahli politik dari Michigan. Dalam eksperimennya, Kochen meneliti pengaruh politik dari sebuah persahabatan atau hubungan antarkawan. Di bidang sosial, baru kelompok kami yang melakukan eksperimen secara global.

Siapa yang membiayai proyek ini?

Kami mendapat bantuan dari perusahaan Intel, dari National Science Fund, badan bantuan federal Amerika Serikat, dan Columbia University, berjumlah total sekitar US$ 1,5 juta. Untuk eksperimen kedua, kami mendapat dana dari James McDonnell Foundation sebesar US$ 450.000 untuk jangka tiga tahun.

Siapakah sosiolog besar yang Anda kagumi?

Steven Strogatz dari Cornell University. Hasil risetnya menunjukkan bahwa serombongan kunang-kunang dari lokasi yang berlainan akan “berkelip selaras” bila berkumpul bersama. Dan para wanita yang tinggal bersama-sama dalam satu rumah besar kemungkinan mengalami haid dalam kurun waktu bersamaan

Nostalgia – Dunia Selebar Daun Kelor

Dunia Selebar Daun Kelor

Teori dunia kecil mengangkat anak Bandung ke pentas dunia. Menarik minat Swiss Bank, Nasdaq, America Online, juga eBay. Belum ada perusahaan Indonesia yang berminat.

NAMA Roby Muhammad, anak muda asal Bandung, tiba-tiba saja menjadi buah bibir di Amerika Serikat. Sejak awal Agustus lalu, setelah artikel “An Experimental Study of Search in Global Social Networks” dicetak majalah Science, ia sibuk menerima wawancara berbagai media pers dunia, termasuk jaringan televisi CNN yang mewawancarainya selama 10 menit, 10 Agustus lalu, dalam acara “Next@CNN”.

Roby Muhammad, 28 tahun, memang tak sendirian menulis artikel ilmiah itu. Eksperimen ini bagian dari Proyek Small World yang digarap bersama Duncan Watts, guru besar sosiologi Columbia University, New York, dan Dr. Peter Dodds, periset dari Earth Institute. Prof Watts, yang juga ahli fisika di Universitas Cornell itu, tak lain pembimbing Roby untuk tingkat doktoral di Departemen Sosiologi Universitas Columbia.

Fenomena dunia kecil (small world) Watts cs mendapat sorotan karena bisa membuktikan teori six degrees of separation-nya Stanley Milgram yang telah berumur 35 tahun. Pada 1967, Milgram membuat surat berantai untuk meneliti jaring sosial masyarakat Amerika. Riset yang melibatkan 300 responden itu membuktikan: rata-rata ada enam orang sebagai selang pemisah untuk mempertemukan dua orang Amerika yang telah saling mengenal.

Sejak itu, fenomena six degrees of separation Milgram menjadi teori yang dianggaap sahih, meski ketika itu media kontaknya adalah surat pos. Masihkah berlaku teori itu di era global dan masa kejayaan surat elektronik (e-mail)? Inilah yang dibuktikan Prof. Watts, Dodds, dan Roby.

Roby adalah anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Prof. Wahyu Karhiwikarta –spesialis kedokteran olahraga– dan dokter spesialis anak Hanariah Wahyu. Di rumah, Roby biasa dipanggil Obi. “Kami selalu menganggap Obi sebagai anak kecil,” kata Ninon Ratna Artsati, 38 tahun, kakak nomor duanya, kepada Taufik Abriansyah dari Gatra.

Obi lahir dan tumbuh di Bandung hingga tamat dari Jurusan Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB). Menjadi ilmuwan rupanya diidamkannya sejak kecil. “Ayah saya adalah ilmuwan pertama yang saya kenal. Dari beliaulah saya belajar mendedikasikan hidup pada ilmu. Dari Ibu, saya belajar mengabdi kepada keluarga dan masyarakat, dan itu menjadikan hidup lebih berharga,” tutur Roby.

Teori “dunia selebar daun kelor”-nya itu ia ungkapkan dalam wawancara khusus dengan Didi Prambadi, koresponden Gatra di New York. Di sela-sela kesibukannya melakukan penelitian dan menemani istrinya, Tika Sukarna –sedang mengambil program doktor biologi di City University of New York– yang tengah menanti kelahiran buah cinta mereka. Berikut petikannya:

Apa arti penting proyek small world yang Anda kerjakan ini?

Pada tahun 2000, saya mengajukan proyek untuk program master di Columbia University. Ide awalnya hanya replikasi dari Milgram. Saya ajukan ke Prof. Duncan Watts, diterima. Beliau punya ide yang sama tentang hal itu.

Fenomena small world pertama kali dicetuskan Duncan Watts bersama Steve Strogatz pada 1998. Temuan ini bersifat teoretis. Saya pikir, akan lebih baik dilakukan penelitian di lapangan. Setelah berembuk, kami bertiga sepakat sehingga lahirlah proyek itu, melibatkan 60.000 orang yang tersebar di 167 negara, termasuk Indonesia.

Dari eksperimen yang berlangsung selama dua tahun dengan target 18 orang (termasuk Indonesia), bisa disimpulkan bahwa rantai pesan di satu negara jumlah rata-ratanya lima. Sedangkan untuk antarnegara jumlahnya tujuh.

Mulai Agustus lalu, kami mengerjakan eksperimen kedua. Kami belum bisa menentukan berapa banyak yang bakal terlibat dalam proyek kali ini. Makin banyak responden, makin baik hasilnya. Karena itu, kami mengimbau warga Indonesia ikut berpartisipasi dalam Proyek Small World ini melalui http://smallworld.columbia.edu.

Mengingat teknologi informasi makin canggih, mampukah rantai pesan itu diperkecil, misalnya menjadi hanya tiga atau empat?

Tujuan eksperimen kami tidak memperkecil jumlah rantai pesan. Meskipun begitu, eksperimen dunia kecil menunjukkan bahwa jalur singkat memang ada. Artinya, meski jaringan sosial secara global sangat kompleks, individu dengan informasi terbatas secara kolektif mampu melakukan proses pencarian sosial.

Bagaimana penerapan teori ini dalam dunia bisnis?

Aplikasinya bisa saja ke situ. Tapi, kami belum punya konsep yang cukup signifikan untuk masalah bisnis. Bagaimanapun, eksperimen kami mengarah ke sana. Kita bisa mengerti bagaimana krisis keuangan terjadi sehingga mampu mengantisipasi sebelumnya. Misalnya, ketika melakukan penjajakan awal dengan Swiss Bank, mereka tertarik pada ide kami. Yakni adanya informal network. Selama ini, para pemain saham di bursa membeli saham andalan yang tengah turun harganya.

Pada kenyataannya, tak hanya harga saham yang mempengaruhi. Sebelum membeli saham, mereka menelepon kawan atau sesama pialang untuk menanyakan pendapat tentang satu saham. Banyak yang membeli saham berkat pengaruh kawan atau pemain lainnya, meski harganya tetap tinggi. Pengaruh seperti inilah yang belum pernah diteliti secara ilmiah di bursa saham.

Di samping Swiss Bank, Nasdaq pun melakukan pendekatan pada tim kami untuk meneliti bursa saham dunia. Kami juga sudah mendapatkan e-mail network milik America Online, juga eBay (penyelenggara jual-beli barang lewat internet). Dengan eBay, kami akan meneliti bagaimana pasar bisa terjadi dan barang apa saja yang paling laku.

Adakah badan lain yang tertarik pada tim ini?

Angkatan Laut Amerika Serikat melakukan pendekatan pada kami, untuk mencari model struktur jaringan organisasi yang tahan terhadap guncangan. Sebab, pada waktu peristiwa 11 September 2001, bagian yang pertama kali hancur adalah kantor Emergency World Trade Center. Banyak warga New York kehilangan sanak familinya. Dan sejak itu, banyak yang bertanya, model struktur organisasi apa yang tahan terhadap guncangan seperti itu.

Adakah perusahaan dari Indonesia yang tertarik pada proyek Anda?

Belum. Maklum, banyak perusahaan yang masih beranggapan: keuntungan apa yang bisa kita dapatkan dari penelitian seperti ini. Mereka juga banyak yang mengharapkan penelitian ini sukses. Padahal, eksperimen juga meneliti kegagalan. Tidak hanya yang sukses.

Apa rencana Anda setelah proyek kedua usai?

Kami akan melakukan penelitian epidemologi tentang penyebaran penyakit HIV, SARS, malaria, dan penyakit menular lainnya. Dan itu banyak terdapat di Indonesia. Saya melihat Indonesia menyimpan potensi masalah sosial lebih besar untuk jangka panjang. Fenomenanya cukup kaya. Misalnya tentang penderita AIDS yang masih ditutupi, juga masalah sosial lain yang sangat beragam. Karena itu, setelah saya menamatkan program PhD pada 2007, saya akan kembali ke Indonesia.

Karena itukah Anda tertarik pada ilmu sosial ketimbang fisika yang pernah Anda pelajari di ITB?

Benar. Gerakan reformasi di Indonesia pada 1998 dan munculnya berbagai konflik sosial membuat saya terkesima. Analisis matematis di fisika tentu bisa membantu analisis masalah sosial. Untungnya, saat itu berkembang studi kompleksitas. Saya tertarik pada studi jaringan kompleks dan beranggapan bahwa ilmu jaringan berguna untuk mempelajari sistem sosial yang kompleks.

Waktu berangkat ke Amerika Serikat untuk meneruskan studi, saya menghubungi Harrison White, doktor fisika teori dari Institut Teknologi Massachussetts dan doktor sosiologi dari Universitas Princeton. Namun, karena White sedang melakukan penelitian di Prancis, saya diperkenalkan dengan Prof. Duncan Watts, guru besar sosiologi di Columbia University. Sejak itu, kami bekerja sama dalam proyek ini.

Bagaimana penerapan ilmu jaringan ini di bidang politik?

Secara teoretis, eksperimen di bidang politik pernah dilakukan pada 1957 oleh Manfred Kochen, ahli politik dari Michigan. Dalam eksperimennya, Kochen meneliti pengaruh politik dari sebuah persahabatan atau hubungan antarkawan. Di bidang sosial, baru kelompok kami yang melakukan eksperimen secara global.

Siapa yang membiayai proyek ini?

Kami mendapat bantuan dari perusahaan Intel, dari National Science Fund, badan bantuan federal Amerika Serikat, dan Columbia University, berjumlah total sekitar US$ 1,5 juta. Untuk eksperimen kedua, kami mendapat dana dari James McDonnell Foundation sebesar US$ 450.000 untuk jangka tiga tahun.

Siapakah sosiolog besar yang Anda kagumi?

Steven Strogatz dari Cornell University. Hasil risetnya menunjukkan bahwa serombongan kunang-kunang dari lokasi yang berlainan akan “berkelip selaras” bila berkumpul bersama. Dan para wanita yang tinggal bersama-sama dalam satu rumah besar kemungkinan mengalami haid dalam kurun waktu bersamaan