Data BUKAN Minyak Terbaru

Banyak orang yang mengatakan bahwa “data is the new oil“. (Saya belum menemukan terjemahan yang pas sehingga judul dari tulisan ini seperti ini.) Alasan yang digunakan mereka adalah data dapat diperjualbelikan dan bahkan katanya harganya mahal. Itulah sebabnya banyak layanan (umumnya di internet) yang gratis dengan menukarkan dengan data pribadi kita.

Saya tidak sependapat dengan analogi data dengan minyak, karena bagi saya analogi yang lebih cocok adalah data sama dengan sampah. Mengapa demikian? Ada beberapa alasan.

  • Data kita hasilkan secara rutin. Ini sama dengan kita menghasilkan sampah setiap hari. Mulai dari sampah makanan kita, sampai ke sampah dari pekerjaan kita sehari hari. Kita juga menghasilkan data setiap hari. Sebagai contoh sekarang hampir setiap handphone memiliki kamera, maka setiap orang memotret apa saja. Yang tidak penting-pentingpun dipotret. Demikian pula banyak orang yang ikut di dalam group (misal WA group) yang isinya chatting tidak penting. (Sekali-sekali lihat chat anak2 di bawah SMA. Chatnya lucu-lucu. Yang kadang-kadang hanya 1 huruf saja. “P”. Kemudian dibalas “T”. Kemudian dibalas “K”. Ini adalah data yang sama dengan sampah.)
  • Sampah juga dapat memiliki nilai (value). Misalnya, sampah plastik dapat didaur ulang menjadi plastik kembali. Ada harganya. Itulah sebabnya ada orang yang pekerjaannya adalah mengumpulkan plastik bekas minuman kemasan. Namun secara umum sampah tidak diminati orang. Sama dengan data yang kita hasilkan, mungkin saja setelah diolah dia akan memiliki nilai. (Catatan: menurut pendapat saya ini sudah berubah dari data menjadi informasi.) Namun secara umum data yang kita hasilkan juga tidak diminati oleh orang lain.
  • Kita pusing dengan sampah. Bagaimana mengolah limbah sampah? Saya pun pusing dengan data yang ada di komputer saya. Di depan saya ada 5 harddisk yang sudah saya copot dari komputer. (Di komputernya masih ada 2 disk lagi.) Di dalamnya banyak data yang mirip dengan sampah; berkas-berkas yang saya unduh dari internet, foto-foto jepretan saya, lagu-lagu, materi presentasi, tugas mahasiswa, dan seterusnya.

Selain hal-hal di atas, masih banyak poin lain yang menunjukkan bahwa data itu lebih mirip dengan sampah.

Saya ambil contoh. Saya memiliki daftar nama mahasiswa yang mengambil kuliah saya saat ini. Itu data. Apakah ada nilainya? Jangan cepat-cepat mengatakan iya. Jika memang data ini ada nilainya, maka apakah Anda mau membelinya dengan harga Rp. 5 juta? Kemungkinan besar, tidak. Bagaimana jika Rp. 500 ribu? Kemungkinan juga tidak. Kalau Rp. 50 ribu. Mulai Anda mikir. Kalau Rp. 5 ribu? Mungkin Anda berminat (karena gorenganpun harganya seperti itu.) Mungkin Anda berminat karena ingin menjukkan bahwa data itu ada harganya, tetapi jujur saja. Untuk apa data itu bagi Anda? Data tersebut tidak ada nilainya. Atau nilainya sangat kecil. Sama dengan sampah.

one man junk is another man’s treasure

Demikianlah pendapat saya, bahwa “Data is the new junk“.

Oh ya, ada versi video dari opini saya ini di YouTube channel saya.

Gara-gara Perkembangan Teknologi

Perkembangan teknologi ternyata bikin saya pusing. Begini. Saya kan menulis cerita tentang “Jek dan Sar” (linknya nanti saya pasang di sini). Cerita ini terhenti cukup lama. Tahunan. Terus apa hubungannya dengan teknologi?

Dalam cerita “Jek dan Sar” itu mereka berkomunikasi dengan menggunakan SMS. Nah, jaman sekarang siapa yang menggunakan SMS? Anak-anak milenial pasti akan tertawa sampai sakit perut kalau masih ada orang berkomunikasi dengan menggunakan SMS. Tidak masuk akal. Hanya teks saja dan bayar pula!

Kalau cerita saya itu mau kekinian, maka semuanya harus saya tulis ulang dengan menggunakan WA/Telegram (atau apapun program messaging yang sedang populer saat ini). Bahkan akan lucu kalau Jek dan Sar tidak saling kirim foto lewat Instagram, misalnya. Nah lho.

Kalau cerita saya tulis dengan setingan lama – jama SMS itu – maka saya yang pusing karena saya harus terbang ke waktu jaman itu. Beban ada di saya. Meskipun ini mungkin adalah pilihan yang paling logis. Toh cerita-cerita yang mengambil setingan waktu jaman dahulu pun masih tetap mungkin. Lah Dilan saja mengambil setingan waktu tahun 1990-an. Berarti saya saja yang kurang kreatif. Ha ha ha.

Jadi bagaimana bagusnya?

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)

Ada banyak teknologi “baru” yang muncul. Mereka disebut “emerging technologies”. Tidak semuanya akan sukses. Akan ada yang muncul dan kemudian menghilang, tetapi ada yang muncul dan membuat perubahan yang dahsyat dalam kehidupan kita.

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence, AI – saya akan menggunakan singkatan AI dalam tulisan ini) merupakan salah satu teknologi yang akan membuat perubahan yang dahsyat. Sebetulnya AI ini bukan teknologi yang baru karena awalnya sudah dimulai pada tahun 1950-an. Yang membuat dia menjadi “baru” adalah karena adanya inovasi-inovasi di bidang lain – (mikro)elektronika, komputer, jaringan, storage, database, cloud computing – maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan oleh AI menjadi masalah yang nyata. Dahulu dia hanya dapat memecahkan masalah mainan (dolanan) saja.

Dampak yang ditimbulkan oleh AI mirip (atau lebih hebat?) dari dampak yang ditimbulkan oleh mekanisasi / otomatisasi. Pekerjaan-pekerjaan yang rutin dan membosankan akan digantikan oleh mesin yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan. Akibatnya lapangan pekerjaan yang dahulu menggunakan manusia akan tergerus. Akan ramai ini. Untuk poin ini saya tidak ingin membuatnya menjadi isyu yang keras karena nanti akan ada alergi kepada AI. Padahal kita harus menguasai AI sebelum AI menguasai kita atau AI produk dari negara lain yang menguasai kita.

Sejauh mana AI akan merasuk ke dalam kehidupan kita? Nampaknya saya harus membuat tulisan – atau video – yang lebih rinci lagi bahasannya. Mencari waktu …

Seri Video Startup

Akhirnya saya mulai membuat video (vlog) tentang Startup. Tentang menjadi entrepreneur. Ini akan menjadi seri video karena ada banyak topik yang akan dibahas.

Sebenarnya, ide awalnya sih blog ini akan membuat versi tulisan dari video tersebut. Jadi orang yang senang melihat video, silahkan melihat videonya. Sementara itu, orang yang senang membaca dapat membaca blog ini. Rencananya juga yang di blog bisa ditambah dengan pembahasan yang lebih rinci lagi, karena ruangnya lebih lega. (Kalau membuat video yang terlalu panjang, tidak diminati orang.) Selain itu juga blog lebih nyaman untuk dijadikan tempat diskusi. (Ini dapat berubah.) Untuk sementara ini pembahasan belum saya buat. Jadi saya buatkan ulasan singkatnya dulu saja.

Video pertama adalah tentang bagaimana memulai startup itu sendiri. Saya mengusulkan ada dua alasan; (1) ingin memecahkan sebuah masalah, dan (2) karena bisa sesuatu dan ingin membuat bisnis berdasarkan kebisaan saya tersebut. Simak videonya di sini.

Startup: ideation

Video kedua membahas lebih lanjut tentang ide tersebut. Apa hubungan ide tersebut dengan Anda? Bagi saya, ide sebuah startup harus terkait dengan Anda. Misalnya, ide tersebut memecahkan masalah pribadi Anda. Atau jika bukan Anda sendiri, itu adalah masalah salah satu orang di tim Anda. Jika ide tersebut tidak ada hubungannya dengan Anda, maka minggu depan Anda akan dengan mudah mengganti topik.

Startup: ide dan Anda

Demikian secara singkat dua video tentang startup yang sudah saya buat. Akan ada video-video yang lain. Menyusul. Semoga.

Teknologi & Politik

Baru-baru ini beredar berita tentang Google yang membatasi akses Huawei terhadap kode Android dan layanan Google lainnya (Google Play, Gmail App). [Link berita akan saya kumpulkan dan letakkan di bagian akhir dari tulisan ini.] Ini berita yang cukup menggemparkan meskipun merupakan sesuatu yang sudah lama diduga oleh negara-negara yang bergantung kepada layanan sebuah perusahaan di sebuah negara tertentu. Mereka tidak mengira bahwa hal ini akan dieksekusi.

Sebagai sebuah perusahaan yang berdomisili di Amerika, Google harus taat kepada peraturan dari pemerintah Amerika Serikat. Maka ketika pemerintah Amerika Serikat memutuskan bahwa perusahaan Huawei melanggar berbagai keputusannya [dibutuhkan referensi di sini] maka pemerintah melarang perusahaan lain untuk melakukan bisnis dengan Huawei. Mau tidak mau Google (dan perusahaan Amerika lainnya) harus nurut.

source: https://www.theasset.com/belt-road-online/35604/us-warns-europe-against-using-huawei-

Ini merupakan contoh politik yang mempengaruhi bisnis. Sebetulnya kalau mau ditelaah lebih lanjut lagi, ini mempengaruhi teknologi. Sedemikian pentingnya teknologi sehingga menjadi salah satu penentu keputusan. Kali ini teknologi 5G yang menjadi perebutan. Setelah ini kemungkinan teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence / AI) yang akan mendapat perhatian yang sama, karena AI ini sama pentingnya (bahkan dapat dikatakan lebih penting) dari teknologi 5G.

Berulangkali saya katakan kepada mahasiswa saya agar tidak buta politik, tetapi jangan terjun ke politik praktis. Pahamilah politik sehingga kita tidak tersesat atau bahkan ditunggangi oleh kepentingan politik (praktis).

Lantas bagaimana dengan kita di Indonesia?

Kasus ini membuka mata kita seberapa tergantungnya kita dengan teknologi asing. Begitu pihak asing menutup teknologi tersebut, matilah kita. Maka kemandirian teknologi bukanlah isapan jempol. Dia merupakan sebuah hal yang riil. Kedaulatan Teknologi.

Contoh yang riil. Beberapa waktu yang lalu (tahunan?), kami pernah mengusulkan adanya “app store” sendiri. Handphone yang beredar di Indonesia dapat menggunakan “app store” kita sendiri. Namun nampaknya ide ini belum mendapat dukungan dan bahkan tidak dimengerti. Sekarang semoga kita mengerti mengapa perlu ada “local app store“. (Rincian mengenai hal ini masih harus dibahas. The devils are in the details.)

Demikian pula kemampuan untuk membuat kernel dari sistem operasi (terutama untuk handphone) juga merupakan hal yang utama. Tidak banyak orang Indonesia yang ngoprek tentang hal ini. Saya hanya tahu beberapa orang saja. Apakah Anda pernah ngoprek kernel sebuah sistem operasi?

Kebutuhan SDM (sumber daya manusia) yang menguasai teknologi-teknologi ini secara mendalam dapat dikatakan sangat kritis. Darurat SDM teknologi. Apakah kita akan menunggu sampai kita diblokir dulu baru kemudian bergerak?

Tautan terkait berita Huawei

Lomba Pemrograman (IoT)

Internet of Things (IoT) sedang ramai dibicarakan. Salah satu pemanfaatan yang paling mudah dilakukan dengan IoT adalah untuk memantau temperatur, kelembaban, dan hal-hal yang terkait dengan lingkungan (cuaca? weather).

Di Bandung, kami sudah memasang beberapa (banyal) sensor yang terkait dengan cuaca ini. Weather sensors. Target awalnya adalah tersedia 150 sensor yang tersebar di kota Bandung. Data dari sensor-sensor tersebut kami kumpulkan dalam sebuah basis data. Nah, sekarang data tersebut kami buka.

Kami mengajak semua untuk mengembangkan aplikasi terkait dengan data cuaca tersebut dalam sebuah lomba. HackBDGWeather. Hackathon ini sekarang sudah dibuka dan kami menunggu proposal-proposal (ide-ide) dari Anda sekali. Silahkan kunjungi situs webnya di

https://hackathon.cbn.id


Ayo ramaikan. Kami tunggu proposalnya ya. Ditunggu sampai tanggal 15 Januari 2019.

Revolusi Industri 4.0

Saat ini, salah satu topik yang sering menjadi bahasan adalah “revolusi industri 4.0”. Bahkan, topik ini malah terlalu sering dibahas tanpa memahami apa sebetulnya maknanya. Hal ini akan saya bahas dalam update berikutnya dari tulisan ini. (Atau baca referensi di “Tautan tekait”.)

Salah satu cara untuk memahami apa itu revolusi industri 4.0 dan efeknya adalah dengan cara mencari literatur yang bagus. Salah satu buku yang bagus tentang hal ini adalah buku dari Klaus Schwab, “The Fourth Industrial Revolution”.

Buku ini membahas berbagai aspek (dan efek) dari revolusi industri 4.0. Sebagai contoh, bagaimana kebijakan pemerintah terkait dengan efek yang akan ditimbulkannya? Salah satu efek yang dikhawatirkan adalah adanya tenaga kerja yang digantikan oleh mesin (robot, artificial intelligence atau AI). Padahal banyak negara berkembang yang mengandalkan industri yang padat karya. Regulasi yang berlebihan – misal melarang penerapan AI – akan menyebabkan kita menjadi tertinggal. Laggard. Akibatnya malah tidak dapat meraup manfaat yang ditimbulkan oleh revolusi industri 4.0 ini.

Buku Klaus Schwab, “The Fouth Industrial Revolution”

Sebetulnya saya ingin membahas lebih lanjut lagi tentang buku ini, tetapi saya sendiri juga belum selesai membacanya. Ini adalah salah satu buku yang harus dibaca pelan-pelan. Membaca dua halaman, berhenti. Mikir dulu. Jadinya sangat lama bagi saya untuk menyelesaikan buku ini. Memang tidak ada yang mengejar-ngejar sih, tetapi kan masih ada buku-buku lain yang harus dibaca.

Tujuan dari tulisan ini adalah mengajak Anda untuk membaca buku ini.

Tautan terkait.

Machine Learning: Pengenalan Wajah

Salah satu aplikasi dari Artificial Intelligence (AI) atau Machine Learning adalah dalam pengenalan wajah seseorang. Salah satu perusahaan saya (PT Riset Kecerdasan Buatan) sedang mengembangkan model untuk melakukan hal ini.

Salah satu langkah yang penting dalam machine learning adalah ketersedian data untuk pelatihan (training). Data ini yang akan digunakan untuk mendeteksi orang yang bersangkutan. Proses pengambilan data ini kami sebut proses registrasi. Ada banyak cara melakukan proses registrasi. Yang kami lakukan adalah dengan mengambil video dari orang yang akan dideteksi.

Berikut ini adalah video salah satu kegiatan kami dalam proses registrasi yang disebutkan di atas. Ini kami ambil ketika ProcodeCG sedang memberikan workshop tentang machine learning di Bandung Digital Valley (BDV).

Semoga video singkat ini dapat menunjukkan apa yang kami lakukan di perusahaan kami.

Kegagalan Alat Fingerprint

Salah satu penerapan teknologi informasi yang mulai banyak digunakan adalah alat pemindai sidik jari (fingerprint scanner). Alat ini digunakan untuk mengidentifikasi seseorang berdasarkan sidik jarinya. Pemakaian yang terbanyak adalah untuk menunjukkan kehadiran – istilah sehari-harinya absensi.

Penerapan teknologi ini harus hati-hati sehingga bukan malah membuat masalah. Sebagai contoh, saya sering kesulitan untuk mengidentifikasi diri dengan alat ini. Di kampus saya, alat ini digunakan sebagai tanda kehadiran. Nah, sering saya tidak dapat dikenali oleh alat ini.

Ini contoh video yang saya ambil ketika saya mencoba mencatatkan kehadiran.

Setelah berulangkali gagal, saya menyerah. Hasilnya memang saya dianggap tidak hadir pada hari itu. Terserah lah … Kumadinya welah, kata orang Sunda. he he he.

Block 71 Bandung

Beberapa tahun yang lalu – mungkin sekitar tahun 1998(?) [wah sudah lama ya] – kami menulis dokumen tentang Bandung High-Tech Valley (BHTV). Isinya adalah tentang kawasan Bandung (dan sekitarnya) dapat menjadi cerminan Silicon Valley-nya Amerika. (Ini membutuhkan blog post terpisah.) Salah satu hal yang saya impikan pada waktu itu adalah kawasan jalan Dago – nama resminya adalah Jl. Ir. H. Juanda – berisikan perusahaan-perusahaan yang berbasiskan teknologi. Modelnya mirip dengan Palo Alto-nya Silicon Valley. Jadi bukan kawasan perkantoran seperti yang ada di Jakarta.

Nah, sekarang ini mulai kejadian. Minggu lalu Block 71 Bandung dibuka. Apa itu Block 71 Bandung? Silahkan simak video ini.

Singkatnya, Block 71 adalah inisiatif dari Nasional University Singapore (NUS) Enterprise. Mereka mengembangkan sebuah tempat yang memang alamatnya adalah “Block 71” di Singapura. Tempat itu digunakan untuk mengembangkan banyak start-up. Hasilnya luar biasa. Selain mengembangkan block-block lain di sekitarnya, “Block 71” secara organisasi juga mulai merambah ke negara-negara lain. Indonesia merupakan salah satunya. Di Indonesia saat ini sudah ada Block 71 di Jakarta, Jogjakarta, dan sekaarang di Bandung.

Mengapa jalan Dago ini merupakan hal yang esensial? Karena dia dekat dengan berbagai perguruan tinggi; ITB, UNPAD, UNPAR, UNPAS, UNIKOM, ITHB, dan masih banyak lainnya. Ini salah satu kunci kesuksesan kawasan teknologi, yaitu kedekatan dengan tempat sumber daya manusia (SDM) dan tempat penelitian.

Sebentar lagi akan ada perusahaan-perusahaan teknologi lain di jalan Dago, menggantikan factory outlet yang menjadi jagoannya kota Bandung. ha ha ha. Asyik. Bandung betul-betul menunjukkan diri sebagai kota teknologi yang mendukung entrepreneurship.

Dreams do come true.