Teknologi & Politik

Baru-baru ini beredar berita tentang Google yang membatasi akses Huawei terhadap kode Android dan layanan Google lainnya (Google Play, Gmail App). [Link berita akan saya kumpulkan dan letakkan di bagian akhir dari tulisan ini.] Ini berita yang cukup menggemparkan meskipun merupakan sesuatu yang sudah lama diduga oleh negara-negara yang bergantung kepada layanan sebuah perusahaan di sebuah negara tertentu. Mereka tidak mengira bahwa hal ini akan dieksekusi.

Sebagai sebuah perusahaan yang berdomisili di Amerika, Google harus taat kepada peraturan dari pemerintah Amerika Serikat. Maka ketika pemerintah Amerika Serikat memutuskan bahwa perusahaan Huawei melanggar berbagai keputusannya [dibutuhkan referensi di sini] maka pemerintah melarang perusahaan lain untuk melakukan bisnis dengan Huawei. Mau tidak mau Google (dan perusahaan Amerika lainnya) harus nurut.

source: https://www.theasset.com/belt-road-online/35604/us-warns-europe-against-using-huawei-

Ini merupakan contoh politik yang mempengaruhi bisnis. Sebetulnya kalau mau ditelaah lebih lanjut lagi, ini mempengaruhi teknologi. Sedemikian pentingnya teknologi sehingga menjadi salah satu penentu keputusan. Kali ini teknologi 5G yang menjadi perebutan. Setelah ini kemungkinan teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence / AI) yang akan mendapat perhatian yang sama, karena AI ini sama pentingnya (bahkan dapat dikatakan lebih penting) dari teknologi 5G.

Berulangkali saya katakan kepada mahasiswa saya agar tidak buta politik, tetapi jangan terjun ke politik praktis. Pahamilah politik sehingga kita tidak tersesat atau bahkan ditunggangi oleh kepentingan politik (praktis).

Lantas bagaimana dengan kita di Indonesia?

Kasus ini membuka mata kita seberapa tergantungnya kita dengan teknologi asing. Begitu pihak asing menutup teknologi tersebut, matilah kita. Maka kemandirian teknologi bukanlah isapan jempol. Dia merupakan sebuah hal yang riil. Kedaulatan Teknologi.

Contoh yang riil. Beberapa waktu yang lalu (tahunan?), kami pernah mengusulkan adanya “app store” sendiri. Handphone yang beredar di Indonesia dapat menggunakan “app store” kita sendiri. Namun nampaknya ide ini belum mendapat dukungan dan bahkan tidak dimengerti. Sekarang semoga kita mengerti mengapa perlu ada “local app store“. (Rincian mengenai hal ini masih harus dibahas. The devils are in the details.)

Demikian pula kemampuan untuk membuat kernel dari sistem operasi (terutama untuk handphone) juga merupakan hal yang utama. Tidak banyak orang Indonesia yang ngoprek tentang hal ini. Saya hanya tahu beberapa orang saja. Apakah Anda pernah ngoprek kernel sebuah sistem operasi?

Kebutuhan SDM (sumber daya manusia) yang menguasai teknologi-teknologi ini secara mendalam dapat dikatakan sangat kritis. Darurat SDM teknologi. Apakah kita akan menunggu sampai kita diblokir dulu baru kemudian bergerak?

Tautan terkait berita Huawei

Golput dan Memilih dengan Rasional

Golput dan Memilih dengan Rasional
KOMPAS: Kamis, 7 Agustus 2008 | 01:00 WIB

Oleh Roby Muhamad

Sedikitnya ada tiga alasan mengapa seseorang menjadi golput.

Pertama, seseorang menjadi golput karena di luar kehendak; misalnya sebetulnya ingin memilih tetapi karena suatu hal —misalnya sakit parah—dia tidak memilih.

Kedua, golput sebagai pernyataan politik yang mengisyaratkan ketidakpercayaan pada sistem yang ada.

Ketiga, golput menganggap memilih bukan perilaku rasional karena tidak memberi keuntungan apa-apa bagi diri sendiri.

Untung-rugi

Seseorang dikatakan berperilaku rasional jika perilakunya didasarkan pada penghitungan untung-rugi. Jika seseorang memilih perilaku yang paling menguntungkan dirinya, perilaku itu dianggap rasional. Ikut memilih dalam pemilihan presiden apakah rasional atau bukan? Apa untungnya memberikan satu suara di antara ratusan juta suara lain?

Memang satu suara yang diberikan hampir pasti tidak memengaruhi hasil pemilihan presiden. Di antara sekitar 170 juta pemilih, pengaruh satu suara bisa diabaikan. Karena itu, kelihatannya memilih dalam pemilihan presiden bukan tindakan rasional karena kemungkinan suara yang diberikan memengaruhi hasil pemilu presiden amatlah kecil.

Argumen ini bisa diperluas, bukan hanya sekadar tindakan memilih tetapi juga apakah rasional bagi kita untuk peduli proses pemilihan presiden secara umum. Jika suara kita tidak bisa memengaruhi hasil pemilihan presiden, untuk apa kita menghabiskan waktu dan energi mendengarkan janji-janji yang disampaikan para calon presiden?

Bagi masing-masing individu, memilih memang tidak rasional. Tetapi hasil pemilihan ini berdampak bagi 250 juta orang Indonesia. Misalkan, presiden baru terpilih bisa meningkatkan kualitas hidup orang Indonesia sebesar Rp 100.000 secara rata-rata, maka memilih presiden mirip dengan mengambil undian gratis dengan hadiah Rp 2,5 triliun.

Jadi, meski kecil kemungkinan suara pilihan kita menentukan pemenang pemilu presiden, dampaknya amat besar. Dalam ilmu statistik, hal ini dikenal sebagai peristiwa yang memiliki probabilitas kecil, tetapi nilai ekspektasinya besar.

Nilai ekspektasi adalah hasil perkalian dari probabilitas kejadian dengan dampak kejadian sehingga meski probabilitasnya kecil, jika dampaknya besar, ekspektasinya besar pula. Probabilitas adalah konsep abstrak, tetapi nilai ekspektasi mempunyai nilai riil; dalam contoh itu adalah uang Rp 2,5 triliun. Jadi, pilihan rasional bukan memilih hanya berdasarkan probabilitas tertinggi, tetapi memilih berdasarkan nilai ekspektasi tertinggi.

Perilaku rasional

Dari paparan itu terlihat, memilih termasuk perilaku rasional, asal keuntungan yang dimaksud bukan keuntungan pribadi tetapi keuntungan sosial. Dengan kata lain, memilih berdasarkan dampak sosial memiliki ekspektasi jauh lebih besar daripada memilih berdasarkan dampak pribadi. Artinya, pemilih rasional tidak memilih kandidat yang dipercaya akan memberi keuntungan pribadi, tetapi kandidat yang dipercaya akan memberi keuntungan untuk seluruh rakyat.

Hasil penelitian beberapa ilmuwan politik di Columbia University, New York, memperlihatkan pemilih di AS memilih berdasarkan keuntungan (preferensi) sosial, bukan individu. Penemuan ini membantah pendapat dari sebagian ekonom—misalnya ekonom Steven Levitt pengarang buku populer Freakonomics—yang menganggap memilih dalam pemilu tidak rasional karena tidak memberi keuntungan pribadi.

Mencoblos dalam pemilu bisa dianggap perilaku rasional. Kuncinya adalah memperluas definisi perilaku rasional itu. Kebanyakan ekonom dan ilmuwan sosial menganggap rasionalitas didasarkan keuntungan individu; di sini rasionalitas sama dengan egoisme. Padahal, perilaku rasional dapat juga didefinisikan bukan hanya sebagai perilaku yang memberikan keuntungan pribadi, tetapi juga perilaku yang memberi keuntungan sosial.

Dalam kasus perilaku memilih dalam pemilu malah tidak rasional jika seseorang bertindak egois. Sebab, seorang egois hanya memikirkan keuntungan pribadi, sedangkan mencoblos dalam pemilu tidak memberi keuntungan pribadi.

Dalam konteks pemilihan umum jika Anda ingin menjadi orang rasional, ikutlah memilih dan pilih kandidat yang dipercaya membawa kebaikan bagi negara secara umum, bukan baik bagi Anda saja. Jika Anda memilih hanya untuk kepentingan pribadi, Anda tidak rasional.

Roby Muhamad Kandidat Doktor Sosiologi, Universitas Columbia, New York

IEEE Indonesia Section Gathering

Opening of the Annual Member Gathering.

Presenting «Collaborative Industry Innovation» at IEEE Indonesia Section Annual Member Gathering 2019.

After Section Chairmanship Handover from Prof Fitri Yuli Zulkifli to Prof Wisnu Jatmiko.

Lomba Pemrograman (IoT)

Internet of Things (IoT) sedang ramai dibicarakan. Salah satu pemanfaatan yang paling mudah dilakukan dengan IoT adalah untuk memantau temperatur, kelembaban, dan hal-hal yang terkait dengan lingkungan (cuaca? weather).

Di Bandung, kami sudah memasang beberapa (banyal) sensor yang terkait dengan cuaca ini. Weather sensors. Target awalnya adalah tersedia 150 sensor yang tersebar di kota Bandung. Data dari sensor-sensor tersebut kami kumpulkan dalam sebuah basis data. Nah, sekarang data tersebut kami buka.

Kami mengajak semua untuk mengembangkan aplikasi terkait dengan data cuaca tersebut dalam sebuah lomba. HackBDGWeather. Hackathon ini sekarang sudah dibuka dan kami menunggu proposal-proposal (ide-ide) dari Anda sekali. Silahkan kunjungi situs webnya di

https://hackathon.cbn.id


Ayo ramaikan. Kami tunggu proposalnya ya. Ditunggu sampai tanggal 15 Januari 2019.

Revolusi Industri 4.0

Saat ini, salah satu topik yang sering menjadi bahasan adalah “revolusi industri 4.0”. Bahkan, topik ini malah terlalu sering dibahas tanpa memahami apa sebetulnya maknanya. Hal ini akan saya bahas dalam update berikutnya dari tulisan ini. (Atau baca referensi di “Tautan tekait”.)

Salah satu cara untuk memahami apa itu revolusi industri 4.0 dan efeknya adalah dengan cara mencari literatur yang bagus. Salah satu buku yang bagus tentang hal ini adalah buku dari Klaus Schwab, “The Fourth Industrial Revolution”.

Buku ini membahas berbagai aspek (dan efek) dari revolusi industri 4.0. Sebagai contoh, bagaimana kebijakan pemerintah terkait dengan efek yang akan ditimbulkannya? Salah satu efek yang dikhawatirkan adalah adanya tenaga kerja yang digantikan oleh mesin (robot, artificial intelligence atau AI). Padahal banyak negara berkembang yang mengandalkan industri yang padat karya. Regulasi yang berlebihan – misal melarang penerapan AI – akan menyebabkan kita menjadi tertinggal. Laggard. Akibatnya malah tidak dapat meraup manfaat yang ditimbulkan oleh revolusi industri 4.0 ini.

Buku Klaus Schwab, “The Fouth Industrial Revolution”

Sebetulnya saya ingin membahas lebih lanjut lagi tentang buku ini, tetapi saya sendiri juga belum selesai membacanya. Ini adalah salah satu buku yang harus dibaca pelan-pelan. Membaca dua halaman, berhenti. Mikir dulu. Jadinya sangat lama bagi saya untuk menyelesaikan buku ini. Memang tidak ada yang mengejar-ngejar sih, tetapi kan masih ada buku-buku lain yang harus dibaca.

Tujuan dari tulisan ini adalah mengajak Anda untuk membaca buku ini.

Tautan terkait.

Machine Learning: Pengenalan Wajah

Salah satu aplikasi dari Artificial Intelligence (AI) atau Machine Learning adalah dalam pengenalan wajah seseorang. Salah satu perusahaan saya (PT Riset Kecerdasan Buatan) sedang mengembangkan model untuk melakukan hal ini.

Salah satu langkah yang penting dalam machine learning adalah ketersedian data untuk pelatihan (training). Data ini yang akan digunakan untuk mendeteksi orang yang bersangkutan. Proses pengambilan data ini kami sebut proses registrasi. Ada banyak cara melakukan proses registrasi. Yang kami lakukan adalah dengan mengambil video dari orang yang akan dideteksi.

Berikut ini adalah video salah satu kegiatan kami dalam proses registrasi yang disebutkan di atas. Ini kami ambil ketika ProcodeCG sedang memberikan workshop tentang machine learning di Bandung Digital Valley (BDV).

Semoga video singkat ini dapat menunjukkan apa yang kami lakukan di perusahaan kami.

Huawei goes Smart City

Huawei

BARCELONA — Today, at the Smart City Expo World Congress (SCEWC) 2018 Huawei showcased its Digital Platform based on leading new ICT including artificial intelligence (AI), internet of things (IoT), big data and cloud, enabling city-wide intelligence and sustainable development across the international smart city industry.

Huawei and its global partners demonstrated solutions based on the platform covering municipal management, public safety and environmental protection, as well as smart transportation, smart government, smart education, and smart agriculture. These solutions are designed to facilitate city governance, improve public services, and enable industry innovation and best practices. During SCEWC, Huawei hosted its Global Smart City Summit 2018 with the theme of “Digital Platform Empowers Smart City+” to introduce its Digital Platform for smart cities.

At the Summit, renowned industry associations such as TM Forum and EUROCITIES, and representatives from Singapore, Gelsenkirchen, Yanbu and Jazan shared their ideas and experiences of smart city development with more than 400 city administrators from around the world.

Ma Yue, Vice President of Huawei Enterprise Business Group and President of the Global Sales Department of Huawei Enterprise Business Group, said: “The development of a smart city is a highly complex project. As a world-leading ICT product and solution provider that delivers cloud-pipe-device synergy, Huawei can achieve the integration of cloud, IoT, video and edge computing with AI technologies, connecting the entire city nervous system — the ‘brain’ (command center), ‘central nervous system’ (network), and ‘peripheral nervous system’ (sensors). ”

Check out full press release here

The post Huawei goes Smart City appeared first on BudiPutra.com.

Kegagalan Alat Fingerprint

Salah satu penerapan teknologi informasi yang mulai banyak digunakan adalah alat pemindai sidik jari (fingerprint scanner). Alat ini digunakan untuk mengidentifikasi seseorang berdasarkan sidik jarinya. Pemakaian yang terbanyak adalah untuk menunjukkan kehadiran – istilah sehari-harinya absensi.

Penerapan teknologi ini harus hati-hati sehingga bukan malah membuat masalah. Sebagai contoh, saya sering kesulitan untuk mengidentifikasi diri dengan alat ini. Di kampus saya, alat ini digunakan sebagai tanda kehadiran. Nah, sering saya tidak dapat dikenali oleh alat ini.

Ini contoh video yang saya ambil ketika saya mencoba mencatatkan kehadiran.

Setelah berulangkali gagal, saya menyerah. Hasilnya memang saya dianggap tidak hadir pada hari itu. Terserah lah … Kumadinya welah, kata orang Sunda. he he he.

Block 71 Bandung

Beberapa tahun yang lalu – mungkin sekitar tahun 1998(?) [wah sudah lama ya] – kami menulis dokumen tentang Bandung High-Tech Valley (BHTV). Isinya adalah tentang kawasan Bandung (dan sekitarnya) dapat menjadi cerminan Silicon Valley-nya Amerika. (Ini membutuhkan blog post terpisah.) Salah satu hal yang saya impikan pada waktu itu adalah kawasan jalan Dago – nama resminya adalah Jl. Ir. H. Juanda – berisikan perusahaan-perusahaan yang berbasiskan teknologi. Modelnya mirip dengan Palo Alto-nya Silicon Valley. Jadi bukan kawasan perkantoran seperti yang ada di Jakarta.

Nah, sekarang ini mulai kejadian. Minggu lalu Block 71 Bandung dibuka. Apa itu Block 71 Bandung? Silahkan simak video ini.

Singkatnya, Block 71 adalah inisiatif dari Nasional University Singapore (NUS) Enterprise. Mereka mengembangkan sebuah tempat yang memang alamatnya adalah “Block 71” di Singapura. Tempat itu digunakan untuk mengembangkan banyak start-up. Hasilnya luar biasa. Selain mengembangkan block-block lain di sekitarnya, “Block 71” secara organisasi juga mulai merambah ke negara-negara lain. Indonesia merupakan salah satunya. Di Indonesia saat ini sudah ada Block 71 di Jakarta, Jogjakarta, dan sekaarang di Bandung.

Mengapa jalan Dago ini merupakan hal yang esensial? Karena dia dekat dengan berbagai perguruan tinggi; ITB, UNPAD, UNPAR, UNPAS, UNIKOM, ITHB, dan masih banyak lainnya. Ini salah satu kunci kesuksesan kawasan teknologi, yaitu kedekatan dengan tempat sumber daya manusia (SDM) dan tempat penelitian.

Sebentar lagi akan ada perusahaan-perusahaan teknologi lain di jalan Dago, menggantikan factory outlet yang menjadi jagoannya kota Bandung. ha ha ha. Asyik. Bandung betul-betul menunjukkan diri sebagai kota teknologi yang mendukung entrepreneurship.

Dreams do come true.

Video streaming landscape in Indonesia

HOOQ iFlix Viu

Video is today, undoubtedly the leading driver of global internet traffic, with a projection as high as 82% by 2020. And, a significant chunk of these web visits will be from live streaming and over-the-top (OTT) video.

Indonesia inclusive is not left behind in the upward trend for video as the preferred content format by Internet users. This growth, as expected is piggy-tailing on the back of impressive improved infrastructure and Internet penetration in the region.

To put things in perspective, the market value of the Asia Pacific online video niche is set to grow from an estimated $13 billion in 2016 to over $35 billion by 2021. Also, the subscriber base of video-on-demand is expected to hit the 360 million mark by 2021 up from 177 million in 2016.

Now considering that about half of the region’s population doesn’t have access to the internet at the moment or are grappling with inadequate infrastructure; it only goes to show that the market’s potential hasn’t even being scratched.

At the country level, the same trend is playing out; in Indonesia, rapid internet growth rate, improved broadband, and a growing army of internet users addicted to consuming OTT video content.

A young, hungry for local and international video content, dynamic population, and an internet penetration that grew by over 100% from 20.3% in 2016 to 53.7% in 2017 is at the core of the growing demand for video-on-demand in the country.

It’s not surprising then that the major players in the video on demand and live streaming niche are jostling to take a slice of the market.

Today, there are three dominant local players in the OTT landscape in the country – HOOQ, iFlix, and VIU (yeah, these local competitors for Netflix) each servicing the rising demand for premium video on demand.

According to a report published by Vindicia, a leader in business-to-consumer subscription solutions, consumers’ demands for OTT videos are projected to be driven by readily available local, live, and linear content and the ease of using payment solutions.

Hence, in a bid to position and corner local content, Viu has launched a new platform the Viu Pitching Forum, aimed to encourage aspiring filmmakers to submit their ideas.

According to the Viu’s Indonesian head of Marketing and AdSales, Myra Suraryo the new initiative will give budding series makers in Indonesia the global platform they need to showcase their works.

Meanwhile, iFlix has announced an ambitious campaign to have more original content produced and released for their growing subscriber base in 2019.

This announcement came on the back of an impressive run of its existing iFlix Originals; the new productions slated for 2019 are targeted at fulfilling quadrupling demands for its Original local content by consumers.

HOOQ, on the other hand, is test running a new service – a skinny bundle of Korean and US pay-per-view channels – to its premium users in Indonesia with an eye for a full region-wide rollout sometime in the future.

The new bundle according to the video streaming service will offer 20 pay-tv channels including Animal Planet, E!, tvN, TLC, tvN movies, and History Channel.

Also, HOOQ is introducing local language features for Indonesian viewers with the hope to tap into the over 90% of the population who do not already have access to pay-tv services.

The Video-on-demand positive growth trend, massive investments by streaming services, and improving communication infrastructure across the country only signal to the vast untapped potential in the Indonesian OTT niche, and of course, consumers are the better for it as they would be spoiled for choice of content to consume.

The post Video streaming landscape in Indonesia appeared first on BudiPutra.com.